Pages

Sabtu, April 12, 2014

kuajarikauajarkan

Ajari aku sedikit bahasa untuk sedikit tahu
dan kan kuajari seribu bahasa untuk sedikit banyak kau ejakan bagaimana;
 kamu
caramu
sukamu
dan bencimu
maka kan kuajari kau tentang merangkai bahasa kasihmu
dan kan kau minta tuk ku ajarkan sejuta bahasaku untuk;
mengenalku,
mengertiku,
mengasihiku,
lalu kan kita ajarkan pada diri dan jiwa untuk saling mengenal dan mematri jalinan
entah bahasa yang berisyarat entah bahasa yang mereka kenal
dan hanya rasa yang mampu menerjemahkan


n@n
22.49



Jumat, April 11, 2014

Pastilah semua bermaksud














11042014

Terkadang segala sesuatunya nampak begitu lusuh dan usang
kala matahari begitu terik dan menganakkan tanah menjadi milyaran debu yang mengudara
semua begitu nampak kompromi tanpa izin
tak permisi

dedaunan yang kering pun ku yakin tak sepenuhnya ingin gugur dan lebur bersama tanah yang lembab dan membusuk
semua begitu nampak berkompromi

bukan kebetulan

pastilah semua bermaksud




Jepara
21.38


Jumat, April 04, 2014

Tujuhbelas Kupu


          

  Pastilah dulu aku buta.
            Untuk pertamakali, dengan telah terlepasnya bayang-bayang buram dan keterbatasan mata manusiaku. Aku terkesiap dan berjuang dengan susah payah untuk menemukan kata-kata yang lebih tepat. Aku membutuhkan kata-kata yang lebih baik. Bahwa aku sedang berkutat dengan kata ‘rindu’.
            “Ma,” dorongan batinku menggerakkan seluruh organku untuk segera memeluknya. Nafasku tersengal sakit. Mataku menyaput barisan mata-mata terkasihnya. Aliran sungai surga yang membanjiri ruang surga.Dalam pelukan aku terikat batin yang kuat, paling kuat dari energi-energi apapun.Alirannya deras sederas air terjun yang tingginya bermeter-meter.
*
Tetesan air mata pertama—setiba di depan pintu. Adalah tetesan rasa bersalah menginjakkan kaki di rumah sendiri.
Selangkah lebih maju—tepat di ruang tamu yang menghadap foto keluarga besar tersenyum lepas di dinding seolah menyambut kepulanganku. Sederet barisan mata-mata pun menyaput dibenakku sesaat.
Tetesan air mata kedua—setiba di penghujung pintu kamar seorang wanita yang telah melahirkanku. Adalah rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun. Rasa rindu yang menggebu-gebu menandingi rasa rindu kepada seorang kekasih yang wanginya melebihi harum kasturi.
Selangkah lebih maju—menyibak selambu pintu warna krem keemasan yang berkilau sebab cahaya matahari yang merambat masuk melalui celah jendela menyilaukan penglihatan. Mataku sontak berbinar.
Kini bukan tetesan air mata lagi, sebab tetesan telah megalir deras sederas air hujan yang berjatuhan, berkejaran ke dasar tanah—berjatuhan dengan rasa sesal dan kelu sendiri, berkejaran dengan rasa rindu yang tertahan. Ku benamkan wajahku dalam pelukan tubuhnya, ku peluk seeratnya. Ku mengisak tertahan—sakit, darahkuseperti menggumpal, beku.
Tubuhnya begitu mungil dan kurus. Ingin sekali ku pandangi wajahnya, namun aku takut. Ingin sekali ku sigap jarik yang menutupi raut wajahnya, tapi aku terlalu takut melihat kenyataan dibaliknya—raut wajah yang selalu membuatku tersenyum, yang selalu berusaha untuk membuatku terdiam saat aku menangis; dulu ketika aku masih bayi, balita, bahkan saat aku sudah beranjak dewasa, selama nafasnya masih berhembus, ia selalu berusaha membuatku tersenyum. Ku peluk saja erat-erat, tanpa ku peduli lagi ia sakit karna begitu eratnya aku memeluk. Tak perlu ada lagi yang harus ditahan.
Aliran air mata semakin berkejaran.Menyesaki jiwa. Meracuni paru-paru dan menyumbat saluran pernafasan.“Ma, bangun Ma,” kataku dengan suara cengeng sebab tangis yang aku rasakan. Masih tanpa suara, mungkin marah—pikirku konyol, “Ma…,” tak ada sahutan, omong kosong—mamaku tak pernah marah dan dendam sebegitunya kepadaku, mamaku tak pernah mengutukiku meskipun ku sering membekukan hatinya. Mamaku selalu tersenyum dan mendoakanku.
Jemariku seperti terkena sengatan dahsyat untuk menyigap jarik batik yang menjadi tempat persembunyian tubuh mungil dihadapanku saat itu—biar ku lihat untuk yang terakhirkalinya dalam hidup. Aliran darahku serasa terhenti, terkesiap mendapati raut wajah itu—gambaran wajah tirus, lekukan-lekukan tulang wajah yang sarat dengan garis sketsa yang nyata, berkerut mengelilingi mata dan seisi wajah.
Kukecup keningnya seperti saat aku kecil yang selalu memanja dan dimanja di pelukannya. Matanya—ingin sekali ku pandangi untuk meneduhkan setiap rasa gundahku. Instingnya—yang selalu peka terhadap situasi yang sedang aku alami. Bibirnya—yang selalu terbuka memberikan nasihat tanpa pamrih. Telinganya—yang selalu mendengarkan setiap keluh kesahku tanpa aku mau mendengar balik keluh kesahnya yang begitu mengkhawatirkan keadaanku. Semua itu telah lama tak aku rasakan, dan kuharap saat ku pulang akan mendapatkan itu lagi dalam nyata, bukan hanya sebentuk mimpi yang selalu datang di tiap-tiap malamku. Fuck! Aku mulai kehilangan.
Kini kurasakan bahwa menangis adalah sesuatu anugerah. Menangis bukan berarti lemah yang hanya berdiam meratapi suatu kejadiaan. Menangis telah menjadi energi terbesar untuk memulihakn pikiran dan batinku yang telah lama menghilang dari kesadaran akan kasih sayang yang terlupakan untuk aku menyadarinya—sampai aku merasa kehilangan.
Seorang wanita berkata lirih dari sampingku, “Sabar Nang,”tangannya mencengkeram pundakku—untuk menenangkan, “Semua pasti ada hikmahnya,”
Hikmah yang tak pernah ku sadari, bahwa selama ini aku memiliki seorang wanita yang paling berharga, wanita yang teramat penting dalam kehidupan, kasih sayangnya, perhatiannya, semuanya.
Selepas pemakaman yang memendam setengah jiwaku. Aku tak memutuskan untuk kembali ke kota di mana aku pergi merantau untuk menimba ilmu dan lari dari kepahitan yang aku rasakan dulu di rumah. Aku sengaja mengobati setiap kerinduanku yang gagal ini dengan tinggal serumah dengan seorang lelaki yang tak lain adalah ayahku sendiri. Tak kulihat bekas sesal kehilangan dimata lelaki itu. Hanya diam, yang tak pernah aku tahu arti dari keangkuhannya.
Kini hanya foto mama yang dapat aku pandangi. Hanya baju-bajunya yang tergantung di kamar. Tak ada lagi, tak ada lagi senyuman dan doa-doanya selama nafasnya berhembus—semuanya menggantung di memori kenangan.
“Jangan lupa sholat dan mengaji ya Nang,” suara mama di telepon yang selalu terekam di otakku saat aku berada jauh di antara mereka; orangtuaku.
“Iya Ma,” jawabku.
Kudapati nafas tersengal menahan sesak tangis, suaranya lirih dan berat—apa yang ku rasakan saat itu; aku sakit, aku rindu, bahkan aku ingin tenggelam bersama ombak di lautan yang berkejaran di hadapanku pada saat itu—menapaki butiran-butiran pasir putih yang membentang setengah lingkaran air yang begitu luas. Matahari mulai meredupkan semburat sinar emasnya perlahan di ufuk timur. Reriuhan nyiur mengisaratkan angin dingin—pulang dan ambil selimut untuk menghangatkan tubuh.
Aku ingin pulang sebenarnya. Begitu perasaanku mulai menyesaki jiwa, “Mama ingin sekali melihatmu,”
“Ma, jika Lanang pulang sekarang apa kata Ayah nanti? Lanang belum jadi apa-apa,”
“Mama tak berharap kau harus menjadi apa,” terdengar suara di seberang sana semakin lirih—mungkin biar ayah tak mendengar.
“Tapi Ayah?” ada rasa kelu dari lidahku yang tercekat dengan tiba-tiba terfikir ayah dibenakku, membuat segala tuntutan-tuntutan berterbangan seperti debu yang mengitari terobosan sinar matahari yang menyilaukan, sinarnya silau menyilaukan mata ayahku memandang—terlalu jauh.
“Cukup menjadi seseorang yang selalu menghadirkan kebahagiaan untuk orangtuamu Nang,”
“Ayah juga orangtuaku Ma,”
“Dan Mama?”
Damn! lagi-lagi aku tercekat dengan lidahku sendiri, aku terpasung dalam dua benua yang sama-sama memberikanku penghidupan, namun pada akhirnya aku harus memilih, “Orangtua Lanang yang sangat Lanang sayangi,” jawabku jujur. Benarkah Tuhan mengajarkan seperti ini—bukankah ini lebih ke dalam pilih kasih yang harus aku pilih mana yang harus aku kasihi. Bukankah dalam dalil-dalilNya telah banyak tertera tentang keadilan—lantas apakah ini? Aku merasa terikat di tengah-tengah tambang yang harus ditarik ulur kedua ujungnya.
“Mama sangat ingin kau pulang, Mama sepertinya tak tahan lagi menahan rindu berlama-lama, Mama semakin rapuh disini,” aku rasakan desahan nafas wanita yang menangis. Hatiku luluh, luruh bersama rasa dingin yang mulai mengigit sekujur tubuhku—tiba-tiba aku ingin sekali dipeluk mamaku.
“Lanang kangen Ma, tapi Lanang tak kuasa melawan janji Lanang sendiri saat keluar dari rumah waktu itu,”
Isakan tersebut semakin terasa saja, membuat ngilu sudah seluruh tubuhku pada waktu itu, “Mama sakit dengan keadaan seperti ini Nang,”
Apa lagi sih yang harus ditangisi Ma?!Biar Lanang belajar hidup mandiri dan menghargai jerih payahnya sendiri. Baru dia bisa menghargai jerih payah orang lain! Terdengar samar-samar suara dari belakang sana, aku yakin sekali itu suara ayah yang marah; karena mama yang sekian kalinya menghubungiku meski telah dilarang.
“Ma. Ma? Mama? Halo…??” tak ada sahutan. Aku seperti terpisah dalam keadaan gelombang pasang di tengah lautan, kemana harus ku mengadu, sedang Tuhan tak mendengarkan jeritan-jeritan batinku—khilafku saat itu.
***
Kini aku berdiri ditengah-tengah ruang kehidupan lengang. Aku masuk ke dalam kamarnya, tak serontoh perasaanku kalut bukan main, bayangan-bayangan tentang mama semakin melekat. Ku melihat kaca riasnya di sudut kamar dengan barisan alat-alat kosmetik, aku bayangkan di mana waktu itu mamaku duduk di depan kaca ini, merapikan rambut, dan dengan merias tipis raut wajahnya, sementara aku mengoyak-ngoyakkan baju lengannya dengan manja agar cepat mengantarku sampai sekolah dan menungguiku sampai jam pulang sekolah. Di ranjang ini aku bayangkan mamaku dengan kasih sayang menyusuiku semasaa kubayi.
Kini hanya tinggal kenangan-kenangan yang akan terus menghantuiku sebab aku tak sempat menghadirkan kebahagiaan seperti yang mama ingin, padahal sedehana—inginkan aku pulang. Dan saat aku pulang; mama benar-benar telah tak tahan menahan rindunya.
Malam setelah menelponku—tubuh mama terbujur lemas tanpa daya, suhu tubuhnya panas, ayahku yang tidur di sebelahnya terpontang-panting kebingungan sendiri. Tanpa pikir panjang ayah langsung membawa mama ke puskesmas terdekat, jam 03.00 dini hari. Lima menit setelah mama di istirahatkan di ruang UGD untuk diperiksa, keluar Ibu dokter yang menangani waktu itu. Maaf pak, istri Anda sudah tiada, begitu kata dokter. Jangan bayangkan ekspresi ayahku pada saat itu, panik, sakit, takut, geram, semua teraduk menjadi satu minuman yang siap saji, namun tumpah ruah tanpa penadah. Begitu cerita ayahku.
If I’m a bad person, you don’t like me. Well, I guess I’ll make my own way…
Begitu nada dering ponselku berbunyi; aku lihat jam weker di atas meja dan menengoknya dengan mata yang masih sayup, pukul 03.10, baru saja aku tertidur satu jam yang lalu karena sulitnya tidur setelah ditelpon mama—kepikiran. “Ya Yah,” jawabku kaget penuh antusias, dua tahun bayangkan, ayahku baru menelponku, “Ada apa Yah?” tanyaku rikuh.
“Nang, pesan tiket pagi ini juga, dan pulang,”
“Tapi kenapa Yah? Lanang be..lum…”
Belum selesai aku teruskan perkataanku tadi, “Sudah, jangan bantah perintah Ayah, pulang pagi ini juga!” telepon terputus.
Aku menghela nafas panjang dan meregangkan semua otot-ototku, aku bahagia sekali akhirnya aku bisa pulang, bertemu mama dan memeluk mama, tapi di sisi lain ada kegelisahan yang aku rasakan sejak tadi saat mama menelpon; aku tiba-tiba menakutkan sesuatu, tapi aku tak tahu apa yang aku takutkan. Dua hari sebelumnya aku sempat bermimpi bertemu mama di taman, menghitung kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga. Satu, dua, tiga kupu-kupu itu bercorak manis, sampai pada hitungan ke-enambelas kudapati kupu-kupu rapuh dengan sayapnya yang telah cidera di kedua sisi—muncul rasa ibaku. Lalu mama menghitungkan aku kupu-kupu yang ke-tujuhbelas. Biar kupu yang ke-enambelas itu rapuh sebab ia telah panjang usia mungkin, nanti muncul kupu ke-tujuhbelas dari Mama yang cantik dan menawan, terbang hilir mudik yang selalu mengiringi langkahmu  ke mana kan pergi, yah. Begitu kata mama dalam mimpi. Bagaimana bisa selalu mengiringiku? Karena dia sebentuk doa yang tak padam disepanjang usia. Jawab mamaku dalam mimpi itu. Tapi mimpi itu terlalu manis, tak terfikir rasa ketakutan di dalamnya, lantas apa.
Dan sampailah aku di depan pintu rumah—ketakutanku memuncak dan mengendap di permukaan hingga membentuk gumpalan embun di mataku yag siap tumpah tanpa komando.
***
            “Maafkan Ayah,” begitu kata ayah ketika masuk ke dalam kamarnya—kamar ibu juga. Duduk di sebelahku dan mengusap-usap pundakku untuk yang pertamakalinya.
            Tak ada kata-kata yang lebih baik yang harus aku katakan, begitu sakitnya rasa kehilangan sebelum aku tuntaskan rasa rinduku.
            “Lanang yang salah telah memulai keregangan di keluarga ini.Seandainya dulu Lanang lebih peka dengan kondisi keuangan rumah, mungkin Lanang tak sampai hati membuat Ayah dan Mama kewalahan menghadapi kelakuan Lanang,” ku benamkan mukaku dibahu ayah, setengah memeluk. “Maafin Lanang Yah,”
            Kedua tangan ayah menegakkan bahuku, menatap mataku lekat-lekat, “Ayah yang terlalu kaku mengambil tindakan, maafin Ayah,”. Tak ada kata-kata yang lebih baik lagi kecuali memeluk ayahku dan berjanji pada diriku sendiri agar menjaga orangtuaku yang masih hidup ini dengan baik.

Tiba-tiba bayanganku melompat pada tujuhbelas kupu yang sedang menari-nari dalam kaca rias mama; visualize seseorang yang sedang tersenyum merekah di antara kupu-kupu. Tujuhbelas kupu memancarkan sinar yang berpendar-pendar di mataku.



Rabu, Maret 26, 2014

Tahukah Kamu ~.~)//



Tahukah kamu..
waktu seolah berjalan begitu berlari sampai kutakmampu mengejar akan suatu hal
ketakmampuanku kala itu membuatku memilih untuk sendiri
sampai saat ini...
malam tetap sama dengan kehadiran dua warna antara bulan-bintang dan gelap-mendung
Tahukah kamu..
mungkin waktu telah berjalan begitu lamanya entah beraparibu km jarak yang menceritakan bahwa sepanjang ini mataku keruh, tak lagi mengalir seperti waktu itu
kala aku merindukan kesedihan yang membuatku menangis,
lamaaaa banget rasanya tak merasakan...
Tahukan kamu kalau aku cengeng,,,
berjuta cerita kesedihan yang aku alami tak turut membuatku selalu basah akan hujan
bahkan hujan yang terus menuruni pun mampu aku redam tanpa matahari
seperti beku lalu makin kubekukan dengan sendiri
seperti sakit yang semakin kusakitkan hingga matirasa dan tak berasa

Tahukah kamu...
terkadang kesunyian itu menyelinap seperti  ular yang begitu gesit dan menakutkan
memasuki ruang ruang dan waktu



nan

26032014
22.06

Jepara

Senin, Maret 17, 2014

14032014 (to hacker plis pulihin akun gue)

hari itu gue bener-bener kesel,,, tadinya malem pas lembur mau log in fb buat share info penting kagak bisa,, aslinya ya biasa gak panik,, mungkin lagi trouble,, soalnya di bb bisa-bisa aja,, karna stanby terus si emang bb, jaga-jaga kalo ada info penting.. eh gak taunya pagi nyoba log in lagi kagak bisa.
gue coba lagi dah aslinya, gak bisa juga, sampe ada permintaan status "Berpacaran" dengan... GILA aja, gue gak berasa, kenal aja gak,
uda lama kale ga pacaran, gak ngrasa lah gue....
kagak nrima loh gue, tapi disitu diterangkan gue uda berpacaran sama tuh hacker, sial banget!!
temen2 sampe hebohh, secara gue gak pernah bikin status2 kayak gitu, pacaran juga gak, ,mereka yang penasaran hidup gue, asmara gue, ya pasti kayak makanan empuk lah, dicari2 siapa tuh orang.
sumpah dah,, kebangetan yang hacker, kelahiran 96, adek kelas banget,,, hmmm
asli gue kesel, marah,, gimana gak, akun itu banyak relasi kerja juga,,
bikin juga uda ogah gue, tar pas dicari orang juga ngiranya yang itu,, pliss deh,, bisa gak balikin semula,,
pahala lu banyak de kalau mau mulihin akun gue,,

:(

Selasa, Desember 31, 2013

newyear'z

Sepanjang hari ini hujan terus menuruni bumi,
entah basah sampai di mana,
detik jam terus berputar menarik menit ke jam
ber jam-jam

sampailah..

00:00
2014

Dengan menikmati percikan kembang api yang mengudara
di beranda,
ditemani gerimis turun
tik tik tik
menggelitik kulit kepala
aku terhenyak
sebegitu rupa tahun sudah menginjak 2014

begitu banyak momen yang ada dan tersimpan di dalamnya,
ntah kenapa... ingin rasanya seketika berlari ke dalam kamar,
seorang diri
tanpa ada siapapun saat ini
....membuka sebongkah folder album
"My Family"
momen-momen keluarga,,,
2010 ke belakang...
tik tik tik
tak kalah suara hujan di luar sana, airmata mulai menuruni pipi

begitu terasa kurang...
3 tahun berjalan...
tanpamu Yah,,, T.T



#Speechless
cry....


missu dad,
missu you so much :'(

Kamis, Oktober 24, 2013

Lonely

Seperti berjalan
hanya berjalan..
dedaunan meruntuh
satupersatu
berhitungmenghitung
dijarak perbatasan waktu
ingin kutemui
sebuah perjalanan satu
tuju itu
kamu
yang ntah...
?

Kamis, Oktober 03, 2013

Perkenalan jarakjauh :D

Beberapa waktu lalu, aku dihantarkan pada perkenalan singkat
seiring waktu yang lalu perkenalam itu menjadi semacam aliran listrik yang berdaya ribuan Volt.
berjarak seninselasarabukamisjumatsabtuminggu menguatkan daya berjuta-juta Volt untuk menghadirkan sebuah titik titik terang di segala penjuru.
Tak perlu pendeteksian akan arus apa yang membangkitkan energi semacam itu.
 Hanya ketika hari hanya berputar sesuai nama dan berjalan sesuai pertambahan tanggal tak mengubah bagaimana cara waktu menghantarkan arus seperti semula.
Antara jarak, ribuan Km dan nada yang tak pernah mengisi seolah ilusi
Semu,
titik terang di segala penjuru seolah meredup satu satu di titik terdekat lokasi pertemuan keduanya.
Hanya yakin akan kekuatan dahsyat untuk menyatukannya.
Membentuk energi lebih besar lagi lebih dari jutaan Volt, milyar bahkan triliun...
(^.^)))//
Meyakini apa yang diyakini... n_n
Jika suatu saat kutemukan kekuatan itu, entah itu denganmu maka jadilah dan bentuklah kekuatan yang lebih besar hingga terangnya tak terbatas.

Senin, September 30, 2013

WUJUD DAN FUNGSI ALIH KODE PENUMPANG DAN AWAK BUS TRAYEK JEPARA-SEMARANG (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)

WUJUD DAN FUNGSI ALIH KODE PENUMPANG DAN AWAK BUS TRAYEK JEPARA-SEMARANG
(KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)

Nanik Wulansari
NIM A2A009010
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Abstrak
This research aimed to describe the variation form of code switching, explaining the function of code switching and code switching determinants on speech passengers and crew-bus route Semarang-Jepara. This research is a qualitative descriptive study using a sociolinguistic approach. To achieve the objectives of this study, researchers refer to the theory of Hymes 1974 Suwito (1985) and Widjajakusumah 1981. Collecting data in this study through observation using advanced techniques. Refer involved a conversation (SLC), consider the conversation involved free (SBLC), records, and record.
The results showed that the variation of code switching passengers and crew-bus route Semarang-Jepara is a the internal code switching. Over the internal code switching is a code switcing inter-language, that is from Indonesian to Javanese and from Javanese to Indonesian, and code switching between speech level, namely from language Java Ngoko to language Java Madya, language Java Madya to language Java Ngoko, language Java Ngoko to language Java Krama, language Java Krama to language Java Ngoko. Code switching function is found, which is to familiarize or stretch your communication, to offer and provide information, to provide security to passengers, to convey a sense of humor, and to save time. Determinants over the code is found, the setting and scene, participant, ends, key, genre: language diversity kolokial.
Keywords: code switching, a form of code switching, code switching function, passengers, and crew bus.

Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud variasi alih kode, menjelaskan fungsi alih kode, dan faktor penentu alih kode pada tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik.

Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini, peneliti mengacu pada teori Hymes 1974, Suwito (1985) dan Widjajakusumah 1981. Pengambilan data dalam penelitian ini melalui metode observasi dengan menggunakan teknik lanjutan. Simak libat cakap (SLC), simak bebas libat cakap (SBLC), rekam, dan catat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud variasi alih kode penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang yang terjadi adalah wujud variasi alih kode intern. Alih kode intern tersebut adalah alih kode intern antarbahasa, yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa dan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, dan alih kode intern antartingkat tutur bahasa, yaitu dari bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Madya, bahasa Jawa Madya ke bahasa Jawa Ngoko, bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Krama, bahasa Jawa Krama ke bahasa Jawa Ngoko. Fungsi alih kode yang ditemukan, yaitu untuk mengakrabkan atau merenggangkan komunikasi, untuk menawarkan dan memberikan informasi, untuk memberikan rasa aman pada penumpang, untuk menyampaikan rasa humor, dan untuk menghemat waktu. Faktor penentu alih kode yang ditemukan, yaitu setting and scene, participant, ends, key, genre : ragam bahasa kolokial.
Kata kunci : alih kode, wujud alih kode, fungsi alih kode, penumpang, dan awak bus.

A. Pendahuluan
Masyarakat yang menguasai dua atau beberapa bahasa harus memilih salah satu bahasa jika mereka akan berkomunikasi. Pilihan bahasa tersebut dalam kajian sosiolinguistik ada tiga jenis, yaitu alih kode, campur kode, dan variasi dalam bahasa yang sama (Sumarsono, 2008: 201). Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pilihan bahasa yang berwujud alih kode karena alih kode merupakan salah satu aspek tentang saling ketergantungan bahasa di dalam masyarakat multilingual. Artinya, di dalam masyarakat multilingual hampir tidak mungkin seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak tanpa sedikit pun memanfaatkan bahasa atau unsur bahasa yang lain. Penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya dan fungsi masing-masing bahasa tersebut disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.
Dalam penelitian ini peneliti memilih tempat di dalam bus dan meneliti tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang yang mengandung alih kode. Awak bus terdiri atas, sopir, kernet, dan kondektur. Hal ini merupakan kajian yang sangat menarik karena penumpang dan awak bus tersebut merupakan dwibahasawan yang mempunyai mobilitas gerak tinggi, sehingga akan cenderung

menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian, baik sepenuhnya maupun sebagian, dan itu akan membuat mereka sering beralih kode. Selain itu, bus menempuh jalur kota Semarang ke kota Jepara atau sebaliknya dengan melalui kota Demak, sehingga implikasinya berpengaruh dengan gejala bahasa yang dipakai oleh penumpang dan awak bus akan lebih bervariasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan wujud variasi alih kode yang terjadi pada penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang, 2) menjelaskan fungsi alih kode yang terjadi pada penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang, 3) menjelaskan faktor alih kode yang terjadi pada penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang. Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini, peneliti menggunakan teori sosiolinguistik. Wujud variasi alih kode dibahas dengan menggunakan teori Suwito (1985), fungsi alih kode dibahas dengan menggunakan teori Widjajakusumah (1981), dan faktor alih kode dibahas dengan menggunakan teori Hymes (1974).

B. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan metode observasi. Metode observasi dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik lanjutan; 1) teknik simak libat cakap (SLC), yaitu peneliti ikut terlibat dalam pemunculan data; 2) teknik simak bebas libat cakap (SBLC), yaitu peneliti tidak ikut terlibat dalam pemunculan data melainkan hanya pemerhati saja; 3) teknik rekam; dan 4) teknik catat.
Setelah semua data terkumpul, tahap selanjutnya adalah analisis. Analisis data ini dilakukan dengan tujuan untuk menyederhanakan data sehingga mudah dibaca atau diinterpretasikan. Peneliti dalam menganalisis data berlandaskan teori Hymes (1974) dalam bentuk akronim SPEAKING. Bentuk akronim SPEAKING tersebut adalah: (1) S (Setting and scene), (2) P (participants); (4) A (actual sequence); (5) K (key); (6) I (instrumentalities); (7) N (norms); (8) G (genre). Penerapan setiap dimensi akronim di atas disesuaikan dengan jenis data yang terdapat di dalam penelitian ini.

Pada penelitian ini, hasil analisis data disajikan dengan menggunakan metode penyajian informal. Penerapan metode penelitian informal dalam penelitian ini dilakukan dengan cara memaparkan analisis tentang wujud variasi alih kode, fungsi alih kode, dan faktor penentu alih kode. Penyajian hasil analisis data dalam metode informal ini dilakukan dengan menyajikan deskripsi khas verbal dengan kata-kata.

C. Konsep Alih Kode
Seseorang dalam keadaan kedwibahasaan akan sering mengganti bahasa atau ragam bahasa; hal tersebut tergantung pada keadaan atau keperluan mereka saat berbicara. Alih kode tersebut dapat terjadi pada setiap penutur bahasa, baik ekabahasawan atau dwibahasawan. Alih kode yang terjadi pada penutur ekabahasawan, misalnya beralihnya seseorang dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam bahasa yang sama (misalnya dari bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Krama). Alih kode yang terjadi pada penutur dwibahasawan, misalnya beralihnya seseorang dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain dalam suatu komunikasi (misalnya dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Jawa).
Pada penelitian ini peneliti menggunakan landasan teori yang dikemukakan oleh Nababan (1984: 31) yang mengungakapkan bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian di mana kita beralih dari satu ragam fungsiolek (umpamanya ragam santai) ke ragam lain (umpamanya ragam formal), atau dari satu dialek ke dialek lain, atau dari tingkat tutur tinggi, misalnya krama (bahasa Jawa) ke tutur yang lebih rendah, misalnya bahasa ngoko, dan sebagainya.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Wujud Variasi Alih Kode Penumpang dan Awak Bus Trayek Jepara-Semarang
a. Alih Kode Intern Antarbahasa
Alih kode intern antarbahasa adalah alih kode yang berlangsung antara bahasa satu dengan bahasa lain yang masih dalam satu wilayah politis (negara). Dalam penelitian ini alih kode intern antarbahasa yang masih dalam satu wilayah politis (negara Indonesia) adalah bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.
1) Alih Kode Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa
Alih kode ini merupakan peristiwa peralihan kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA 1
KONTEKS
Penumpang 1 (perempuan yang baru masuk ke dalam bus) dan penumpang 2 (perempuan yang sudah berdiri di dalam bus memegang pegangan yang tersedia di dalam bus untuk para penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk).
Tempat dan waktu : Bus Ekspress. Bus dari Semarang ke Jepara, 26 September 2012.
Penumpang 1 : Maju Mbak. Maju.
Penumpang 2 : Jenengan mandap pundi?
(Kamu turun di mana?)
Penumpang 1 : Mrika, Gotri.
(Di sana Gotri).
Alih kode intern tersebut bersumber dari tuturan penumpang 1 yang menggunakan bahasa Indonesia kemudian beralih bahasa Jawa karena lawan tuturnya (penumpang 2) menggunakan bahasa Jawa. Penumpang 1 berusaha mengimbangi bahasa lawan tuturnya.
2) Alih Kode Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia
Alih kode ini juga merupakan peristiwa peralihan kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA 5
KONTEKS
Sopir memberi tahu kepada kernet, bahwa ada penumpang laki-laki umur ± 30 tahun. Kernet menawarkan tempat duduk pada penumpang laki-laki tersebut.
Tempat dan waktu : Bus Asia Perdana. Bus berjalan dari Semarang ke Jepara, 30 September 2012.
Kernet : Poro-poro.
(Jepara Jepara)
Jepara Mas?
Penumpang : Ya Pak.
Kernet : Sini saja Mas, kosong.
Alih kode terjadi pada kernet yang mulanya menawarkan bus ke arah Jepara dengan menggunakan bahasa Jawa. Kemudian, ketika melihat ada penumpang laki-laki yang berpakaian rapi (seperti busana kantor) ia beralih menggunakan bahasa Indonesia. Penumpang laki-laki tersebut juga merespon dengan menggunakan bahasa Indonesia.
b. Alih Kode Intern Antartingkat Tutur Bahasa
Alih kode intern antartingkat tutur bahasa adalah alih kode yang berlangsung antara tingkat tutur bahasa satu dengan tingkat tutur bahasa lain yang masih dalam satu wilayah politis (negara). Dalam penelitian ini alih kode intern antartingkat tutur bahasa adalah tingkat tutur bahasa yang masih dalam satu wilayah politis (negara Indonesia), misalnya bahasa Jawa, tingkatannya adalah bahasa Jawa Ngoko, Madya, dan Krama.
1) Alih kode bahasa Jawa Ngoko ke Bahasa Jawa Madya
Alih kode ini merupakan peristiwa peralihan kode dari tingkat tutur bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Madya. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA 8
KONTEKS
Percakapan kondektur dengan penumpang. Penumpang adalah ibu-ibu yang sedang memangku anaknya (anak berumur ± 2 tahun dan sedang menangis).
Tempat dan waktu : Bus Asia Perdana. Bus dari Jepara ke Semarang, 26 September 2012.
Kondektur : Pie kok malah nangis terus?
(Gimana kok malah nangis terus)
Penumpang : Mbuh kok Pak.
(Gak tahu kok Pak)
Meneng tah meneng Nang!
(Diam dong diam Nang!)
Kondektur : Rak pareng nakal nggeh Nang.
(Tidak boleh nakal ya Nang).
Alih kode tersebut terjadi pada tuturan kondektur. Tuturan awal kondektur menggunakan bahasa Jawa Ngoko yang ditujukan pada penumpang (ibu dari anak yang menangis), kemudian penumpang merespon dengan menggunakan bahasa Jawa Ngoko dalam tuturannya, Meneng tah meneng Nang, ditujukan pada anaknya yang sedang menangis. Berdasarkan tuturan penumpang tersebut, kondektur beralih kode ke bahasa Jawa Madya yang ditujukan pada anak penumpang yang sedang menangis dalam tuturannya, Rak pareng nakal nggeh Nang. Kondektur bermaksud memberikan contoh bahasa Jawa yang tingkatannya sedang pada anak kecil agar dapat memberikan contoh bahasa Jawa yang sopan/baik.
2) Alih Kode Bahasa Jawa Madya ke Bahasa Jawa Ngoko
Alih kode ini merupakan peristiwa peralihan kode dari tingkat tutur bahasa Jawa Madya ke bahasa Jawa Ngoko. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA 10
KONTEKS
Bus dalam kondisi penuh penumpang. Penumpang 1 (Ibu-ibu, ± umur 45 tahun) dan penumpang 2 (perempuan ± umur 20 tahun). Penumpang 1 duduk di jok belakang, kemudian kejatuhan tas penumpang 2.
Tempat dan waktu : Bus Nirvana. Bus dari Jepara ke Semarang, 25 November 2012.
Penumpang 1 : Tulung-tulung, kebrukan. Tase sinten niki?
(Tolong-tolong, kejatuhan. Tasnya siapa ini?)
Penumpang 2 : Maaf-maaf Buk.
Penumpang 1 : Malah nibani aku iki, abot men isine apa Nduk?
(Malah jatuhi aku ini, berat sekali, isinya apa Nduk?)
Penumpang 2 : (tersenyum).
Alih kode terjadi pada tuturan penumpang 1. Penumpang 1 menggunakan bahasa Jawa Madya dalam tuturannya yang diucapkan, Tulung-tulung, kebrukan. Tase sinten niki? sebagai tindak refleks dan ingin tahu tas milik siapa yang telah menjatuhi dirinya. Ketidaktahuan penumpang 1 mengenai tas siapa, ia menggunakan bahasa Jawa Madya dengan maksud kalau-kalau pemilik tas umurnya lebih tua dengannya, hal itu dimaksudkan agar tidak menyinggung. Setelah tahu tas tersebut milik perempuan umur ± 20 tahun, penumpang 1 beralih menggunakan bahasa Jawa Ngoko karena penumpang 2 dianggap masih muda dan di bawah umur penumpang 1.

3) Alih Kode Bahasa Jawa Ngoko ke Bahasa Jawa Krama
Alih kode ini merupakan peristiwa peralihan kode dari tingkat tutur bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Krama. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA R13
KONTEKS
Percakapan antara penumpang 1 (laki-laki ± 35 tahun) dengan penumpang 2 (perempuan umur 20 tahun).
Tempat dan waktu : Bus Asia Perdana. Bus melaju dari Semarang ke Jepara, 26 September 2012.
Penumpang 1 : Ngendi Mbak? Pecangaan pira ya saiki?
(Ke mana Mbak? Ke Pecangaan berapa ya sekarang?).
Penumpang 2 : Gotri Pak. Pecangaan wolongewu kadose.
(Gotri Pak. Pecangaan delapan ribu kayaknya).
Penumpang 1 : Kuliah ning Semarang?
(Kuliah di Semarang?).
Penumpang 2 : Nggeh Pak.
(Iya Pak).
Penumpang 1 : Pundi?
(Di mana?).
Penumpang 2 : Undip.
Alih kode terjadi pada penumpang 1. Mulanya penumpang 1 berbicara bahasa Jawa Ngoko ke penumpang 2 karena penumpang 1 beranggapan penumpang 2 lebih muda dari usianya, tetapi karena penumpang 2 selalu menggunakan bahasa Jawa Krama dalam setiap tuturannya, maka penumpang 1 beralih kode dengan mengimbangi bahasa penumpang 2, yakni dengan menggunakan bahasa Jawa Krama pada tuturannya, Pundi? Hal itu dimaksudkan oleh penumpang 1 untuk sesama menghormati antarkeduanya.
4) Alih Kode Bahasa Jawa Krama ke Bahasa Jawa Ngoko
Alih kode ini merupakan peristiwa peralihan kode dari tingkat tutur bahasa Jawa Krama ke bahasa Jawa Ngoko. Perhatikanlah data percakapan berikut.
DATA R15
KONTEKS
Pembicaraan antara penumpang 1 (umur ± 35 tahun) dengan penumpang 2 (perempuan umur ± 20 tahun).

Tempat dan waktu : Bus Asia Perdana. Bus dari Semarang ke Jepara, 26 September 2012.
Penumpang 1 : Dalan Welahan ndak ijeh rusak?
(Jalan Welahan apa masih rusak?)
Penumpang 2 : Nggeh Pak tesih rusak.
(Iya Pak masih rusak).
Penumpang 1 : Bupati Demak kenopo Mbak?
(Bupati Demak kenapa Mbak?).
Penumpang 2 : Bupati Demak?
Penumpang 1 : Mou loh aku moco MMT kok selamat dilantiknya Wakil Bupati menjadi Bupati Demak.
(Tadi loh aku baca MMT kok selamat dilantiknya Wakil Bupati menjadi Bupati Demak).
Penumpang 2 : Oh nganu Pak, Bupatine ninggal kayake, merga lara jantung jare.
(Oh itu Pak, Bupatinya meninggal kayaknya, karena sakit jantung katanya).
Alih kode tersebut terjadi pada penumpang 2. Pada kalimat yang kedua, penumpang 2 menggunakan bahasa Jawa Krama pada tuturannya, Nggeh Pak tesih rusak. Meskipun penumpang 2 menggunakan bahasa Jawa Krama, tetapi penumpang 1 selalu menggunakan bahasa Jawa Ngoko, sehingga penumpang 2 beralih mengimbangi dengan menggunakan bahasa Jawa Ngoko dalam tuturannya, Oh nganu Pak, Bupatine ninggal kayake, merga lara jantung jare.
2. Fungsi Alih Kode Penumpang dan Awak Bus Trayek Jepara-Semarang
Komunikasi antara penumpang dan awak bus, baik sudah mengenal atau belum mengenal pasti mempunyai maksud atau fungsi tersendiri ketika mereka beralih kode. Berikut adalah fungsi alih kode yang ditemukan dalam penelitian ini.
a. Ingin Mengakrabkan Komunikasi atau Merenggangkan Komunikasi
Seseorang ketika beralih kode selalu mempunyai maksud dan fungsi tersendiri dalam beralih kode, yang diantaranya adalah untuk mengakrabkan atau merenggangkan komunikasi. Perhatikan contoh tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang berikut.
DATA 17
KONTEKS
Kernet mengajak komunikasi penumpang. Handphone penumpang jatuh ketika mau duduk di jok bus.
Tempat dan waktu : Bus Hasmita. Bus dari Semarang ke Jepara, 26 September 2012.
Kernet : Pecah Mbak?
Penumpang : Mboten Mas.
(Tidak Mas).
Kernet : Pie tah Mbak malah mbok banting-banting iku. (sambil tersenyum)
(Gimana sih Mbak, kok malah dibanting-banting gitu).
Penumpang : (Tersenyum).
Alih kode di atas terjadi pada tuturan kernet, yaitu alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Percakapan dimulai oleh kernet yang menggunakan bahasa Indonesia, kemudian penumpang merespon dengan menggunakan bahasa Jawa Krama, sehingga kernet beralih menggunakan bahasa Jawa, tetapi tingkat tutur yang digunakan oleh kernet adalah bahasa Jawa Ngoko. Kernet bermaksud untuk mengakrabkan komunikasi terhadap penumpang agar tidak ada perbedaan umur atau status sosial di dalamnya.
DATA 19
KONTEKS
Kernet berkomunikasi dengan calon penumpang bus.
Tempat dan waktu : Bus Hasmita. Bus dari Jepara ke Semarang, 15
November 2012.
Kernet : Kamu mburi Mbak. Mepet-mepet.
(Kamu belakang Mbak. Merapat-merapat).
Penumpang : Kebak nok Pak.
(Penuh gitu kok Pak).
Kernet : Sementara.
Pada tuturan di atas terjadi alih kode intern antarbahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Alih kode terjadi pada tuturan kernet yang semula menggunakan bahasa Jawa untuk menghimbau kepada penumpang untuk mau merapat, tetapi respon penumpang menolak himbauan kernet tersebut. Tuturan penumpang yang menyatakan penolakan tersebut membuat kernet beralih kode ke bahasa Indonesia dalam tuturannya, Sementara, untuk menegaskan pada penumpang bahwa berdiri untuk sementara, setelah itu tidak ada komunikasi berlanjut.
b. Untuk Menawarkan dan Memberikan Informasi
Sopir bertugas mengemudikan bus, kernet bertugas mencari penumpang, dan kondektur bertugas menarik ongkos para penumpang. Masing-masing tugas tersebut memiliki tujuan yang sama untuk mencari penumpang dengan menawarkan kepada calon penumpang rute-rute yang dilewati bus saat beroperasi. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian, alih kode yang terjadi juga berfungsi untuk memberikan informasi. Perhatikanlah contoh berikut.
DATA 20
KONTEKS
Kondektur dan kernet menawarkan tumpangan pada penumpang di area Gotri, Jepara.
Tempat dan waktu : Bus Nirvana. Bus dari Jepara ke Semarang, 25 November 2012.
Kondektur : Linggih Mbak linggih, mburi Welahan kabeh kok.
(Duduk Mbak duduk, belakang Welahan semua kok).
Kernet : He’eh agi Mbak, wis sore ora ana bis neh.
Iya ayo Mbak, sudah sore tidak ada bus lagi).
Penumpang : Penuh banget kok Pak.
Kernet : Nanti kan di Welahan kosong Mbak.
Pada tuturan di atas terjadi alih kode intern antarbahasa sendiri, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Alih kode terjadi pada tuturan kernet yang menawarkan tumpangan pada penumpang dalam tuturannya, Linggih Mbak linggih, mburi Welahan kabeh kok, kemudian beralih ke bahasa Indonesia karena penumpang merespon dengan menggunakan bahasa Indonesia. Alih kode yang terjadi pada tuturan kernet tersebut berfungsi untuk memberikan informasi pada penumpang bahwa bus kosong saat di Welahan, dalam tuturannya, Nanti kan di Welahan kosong Mbak. Pada peristiwa tutur tersebut kernet beralih kode dengan maksud menawarkan dan memberikan informasi pada penumpang.
c. Untuk Memberikan Rasa Aman pada Penumpang
Bus trayek Jepara-Semarang ialah bus non-AC, meskipun non-AC para awak bus tetap memperhatikan keamanan penumpang. Seperti pada contoh berikut.
DATA 23
KONTEKS
Kernet menawarkan tumpangan pada penumpang (perempuan ± umur 18 tahun) di area Robayan, Jepara.
Tempat dan waktu : Bus BCR. Bus dari Jepara ke Semarang, 18 November 2012.
Kernet : Ayo Mbak, kene tase didekek ngarep.
(Ayo Mbak, sini tasnya ditaruh depan).
Penumpang : Mboten ah Pak.
(Tidak ah Pak).
Kernet : Tenang, orak ilang orak, kene!
(Tenang, tidak hilang tidak, sini!).
Pada tuturan di atas, kernet beralih kode dari bahasa Jawa Madya ke bahasa Jawa Ngoko untuk menegaskan pada penumpang dengan maksud memberikan rasa aman pada penumpang, sehingga penumpang mau menumpang bus tersebut. Pada tuturan penumpang, Mboten ah Pak, menyatakan ketidakmauan. Tetapi karena alih kode yang terjadi pada kernet meyakinkan bahwa aman, akhirnya penumpang mau ikut bus tersebut.
d. Untuk Menyampaikan Rasa Humor
Penumpang dan awak bus beralih kode juga mempunyai fungsi yang salah satunya adalah untuk menyampaikan rasa humor. Perhatikan contoh di bawah ini.
DATA 25
KONTEKS
Kernet menaruh tas penumpang (perempuan ± 18 tahun) di samping dekat jok sopir.
Tempat dan waktu : Bus BCR. Bus dari Jepara ke Semarang, 18 November 2012.
Sopir : Tase sopo kuwi?
(Tasnya siapa itu?).
Kernet : Tase bojoku. (tertawa)
(Tasnya istriku).
Sopir : Gayamu.
Tuturan di atas, sopir beralih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dengan maksud mengejek kernet, nampak pada tuturannya, Gayamu yang menanggapi tuturan kernet, Tase bojoku, padahal tas tersebut bukan tas istri kernet, melainkan tas penumpang. Dari percakapan singkat antara sopir dan kernet tersebut menimbulkan humor, awak bus dan penumpang ikut tertawa mendengarnya.
e. Untuk Menghemat Waktu
Alih kode yang berfungsi untuk menghemat waktu ini sering dialami oleh penumpang dan awak bus untuk memberikan informasi-informasi mengenai tempat-tempat tujuan. Perhatikanlah contoh di bawah ini.
DATA 27
KONTEKS
Kernet memberitahukan informasi pada penumpang tempat yang akan dilewati bus ketika bus sedang berjalan.
Tempat dan waktu : Bus CBR. Bus dari Jepara ke Semarang, 18 November 2012.
Kernet : Guli, Guli. Siapan-siapan. Merah, Merah.
Tuturan kernet tersebut dimaksudkan untuk menghemat waktu dan menarik perhatian penumpang yang mungkin sedang tertidur atau tidak memperhatikan tempat tujuan yang sudah mau sampai. Kernet menggunakan pemendekatan kata/abreviasi pada kata Guli, Guli. Siapan-siapan, „Guli‟ dari kata „Trengguli‟ (nama tempat), „siapan‟ dari kata „persiapan‟, dan „merah‟ dari kata „lampu merah‟ (lampu lalu lintas). Kernet bermaksud memberitahukan pada penumpang bahwa sudah sampai lampu merah Trengguli, menghimbau pada penumpang yang turun Trengguli agar persiapan untuk turun. Pemendekkan tersebut dimaksudkan agar pesan yang disampaikan pada penumpang cepat tertangkap dan penumpang segera bersiap-siap.
3. Faktor-faktor Penentu Alih Kode Penumpang dan Awak Bus Trayek Jepara-Semarang
a. Setting and Scene
Setting and Scene ini berkenaan dengan tempat, waktu, dan situasi terjadinya percakapan yang mempengaruhi alih kode. Perhatikan contoh berikut ini.
DATA 29
Tempat dan waktu : Bus Hasmita. Bus dari Semarang ke Jepara, 05 Desember 2012.
Kernet : Yo Mbak Garudane kene Mbak. Yo Garuda, Garuda. Hokya hokya! Ngger ngger! Woi woi!
(Ayo Mbak Garudanya sini Mbak. Ayo Garuda, Garuda. Hokya hokya! Ngger ngger! Woi woi!)
Belakang, belakang. Satu, satu!
Tuturan kernet di atas mengalami alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kernet memberikan informasi tempat yang akan dilalui bus kepada penumpang (dalam waktu dekat bus akan tiba di tempat tersebut, bus sedang melaju cepat). Kernet juga memberikan informasi pada sopir bahwa ada penumpang yang mau turun di area Welahan, Jepara. Dalam situasi bus melaju cepat, mendahului kendaraan-kendaraan yang di depannya, kernet dalam ucapannya terkesan cepat dan memburu-buru agar kendaraan lainnya memberikan jalan untuk bus mendahului, dapat diperhatikan pada ucapannya, Hokya hokya! Ngger ngger! Woi woi! Tuturan kernet yang menyatakan, „Garuda‟ ialah nama patung Garuda yang ada di pertigaan dekat sungai di Welahan, Jepara. Tuturan kernet yang mengucapkan Yo Mbak Garudane kene Mbak. Yo Garuda, Garuda, memberikan informasi pada penumpang untuk mendekat ke pintu bus, tempat kernet berdiri. Kemudian, ketika penumpang siap-siap untuk turun, kernet beralih kode ke bahasa Indonesia, Belakang-belakang. Satu-satu! kernet bermaksud memberitahukan pada sopir bahwa ada satu penumpang di belakang yang mau turun.
b. Participants
Participants adalah orang-orang yang terlibat dalam percakapan. Perhatikanlah contoh berikut.
DATA 30
Tempat dan waktu : Bus Shamita. Bus dari Semarang ke Jepara, 11 Januari 2013.
Kernet : Ge Mbak langsung! Melu melu, yo!
(Ayo Mbak langsung! Ikut ikut, ayo! Mandap pundi Bu?
(Turun mana Bu?)
Penumpang (50 Th) : Jeporo Nang.
(Jepara Nang).
Kernet : Niki, pindah mriki mawon.
(Sini, pindah sini saja).
(menyarankan ke tempat duduk yang di depan).
Kernet menawarkan tumpangan pada penumpang perempuan umur ± 25 tahun dan ibu-ibu umur ± 50 tahun. Dalam waktu bersamaan dengan partisipan yang berbeda kernet memilih kode yang tepat untuk dipakai kepada keduanya. Ketika berkomunikasi dengan perempuan umur ± 25 tahun yang lebih muda dari umur kernet, kernet menggunakan bahasa Jawa Ngoko, kemudian pada penumpang ibu-ibu (± 50 tahun) yang lebih tua dari umur kernet, kernet menggunakan bahasa Jawa Krama. Adanya partisipan yang berbeda tersebut menyebabkan kernet beralih kode sesuai dengan alasan tertentu, yaitu dengan orang yang umur lebih tua kernet menghormatinya dengan menggunakan bahasa Jawa Krama, sedangkan dengan orang yang yang lebih muda, ia menggunakan bahasa Jawa Ngoko.
c. Ends
Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Perhatikan contoh berikut.
DATA 34
Tempat dan waktu : Bus Hasmita. Bus dari Jepara ke Semarang, 15 November 2012.
Kernet : Kamu mburi Mbak. Mepet-mepet.
(Kamu belakang Mbak. Merapat-merapat).
Penumpang : Kebak nok Pak.
(Penuh gitu kok Pak).
Kernet : Sementara.
Tuturan kernet di atas dimaksudkan terhadap penumpang agar mau merampat ke belakang, tetapi penumpang tidak mau, sehingga kernet beralih kode. Alih kode yang terjadi pada kernet adalah alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Pada tuturan kernet yang pertama ia menggunakan bahasa Jawa dan penumpang menjawab dengan bahasa Jawa juga tetapi bermaksud menolak. Berdasarkan jawaban penumpang tersebut, kernet akhirnya beralih kode ke bahasa Indonesia pada tuturannya, Sementara dengan maksud menegaskan pada penumpang bahwa bus penuh hanya sementara.
d. Key
Key yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan. Hal tersebut mengacu pada nada, cara dan semangat di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek dan sebagainya. Hal ini juga dapat ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat. Perhatikan contoh berikut ini.
DATA 35
Tempat dan waktu : Bus Langgeng. Bus dari Jepara ke Semarang, 03 Januari 2013.
Kondektur : Was-awas. Om ganteng mau lewat.
Ngendi Yu?
(Ke mana Mbak?)
Penumpang : Welahan mrika.
(Ibu-ibu ± umur 45 th) (Welahan sana).
Kondektur : Tambah sewu
(Tambah seribu).
Penumpang : Heleh pas. Biasane ae telu kok.
(Ibu-ibu ± umur 45 th) (Halah pas. Biasanya juga tiga kok).
Percakapan di atas terjadi alih kode pada tuturan yang diujarkan oleh kondektur dan penumpang. Alih kode yang terjadi pada kondektur ialah ketika ia mau lewat dan memberitahukan untuk menarik uang ongkos bus, ia menggunakan bahasa Indonesia dengan nada ceria, kemudian kepada penumpang (ibu-ibu ± 45 tahun) ia beralih menggunakan bahasa Jawa Ngendi Yu? dengan nada datar biasa. Kemudian, alih kode yang terjadi pada penumpang tersebut ialah dari bahasa Jawa Krama ke bahasa Jawa Ngoko (dengan nada tinggi) untuk menegaskan bahwa ia tidak mau menambah uang seribu seperti yang diminta oleh kodektur, seperti pada ujarannya, Heleh pas. Biasane ae telu kok.
e. Genre
Genre yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Percakapan atau komunikasi antara penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang tergolong memakai ragam bahasa kolokial.
Kolokial terjadi pada ragam bahasa lisan, karena ragam bahasa lisan cenderung bersifat praktis dan tidak memperhatikan aturan kaidah tata bahasa
Indonesia. Bahasa kolokial khas bagi situasi bertutur tertentu, yakni situasi santai. Kosakatanya berupa kata-kata yang telah mengalami penurunan sesuai situasi. Ciri-ciri ragam kolokial ini adalah menggunakan jalur lisan bukan tulisan, ujaran dan isi pembicaraan yang ringkas. Perhatikan contoh berikut ini.
DATA 38
KONTEKS
Kernet memberitahukan informasi pada penumpang tempat yang akan dilewati bus ketika bus sedang berjalan.
Tempat dan waktu : Bus CBR. Bus dari Jepara ke Semarang, 18 November 2012.
Kernet : Guli, Guli. Siapan-siapan. Merah, Merah.
Tuturan kernet tersebut termasuk ragam bahasa kolokial karena tuturan cenderung bersifat praktis dengan pemendekatan kata Trengguli menjadi „Guli‟, persiapan menjadi „siapan‟, dan lampu merah menjadi „merah‟ (lampu lalu lintas). Meskipun tuturan tersebut melanggar kaidah tata bahasa Indonesia, tetapi para penumpang dan awak bus lain yang berada dalam bus tersebut paham dan mengerti bahawa tuturan yang disingkat oleh kernet tersebut ialah Trengguli, persiapan, dan lampu merah (lampu lalu lintas).

E. Penutup
1. Simpulan
Wujud variasi alih kode yang ditemukan dalam penelitian ini adalah alih kode intern. Pertama, alih kode intern antarbahasa, yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa dan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kedua, alih kode intern antartingkat tutur bahasa Jawa, yaitu bahasa Jawa Ngoko ke bahasa Jawa Madya, bahasa Jawa Madya ke bahasa Jawa Ngoko, bahasa Jawa Ngoko ke Krama, bahasa Jawa Krama ke bahasa Jawa Ngoko.
Fungsi variasi alih kode yang ditemukan pada tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang adalah; (1) untuk mengakrabkan komunikasi atau merenggangkan komunikasi; (2) untuk menawarkan dan memberikan informasi; (3) untuk memberikan rasa aman pada penumpang; (4) untuk menyampaikan rasa humor; (5) untuk menghemat waktu. Faktor penentu alih kode yang ditemukan pada tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang adalah; (1) setting
and scene; (2) participant; (3) ends atau tujuan; (4) key; dan (5) genre : ragam bahasa kolokial.
Berdasarkan keseluruhan analisis data juga ditemukan proses abreviasi atau pemendekan kata pada tiap-tiap tuturan awak bus yang menyingkat tuturannya, misalnya Trengguli jadi Guli, Semarang jadi Marang, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan fungsi alih kode yang terjadi pada tuturan penumpang dan awak bus trayek Jepara-Semarang dengan tujuan untuk menghemat waktu.
2. Saran
Berdasarkan hasil simpulan penelitian pada penelitian ini peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian sejenis dengan memvariasikan data, teori dan metode analisis data. Hal tersebut disebabkan penelitian-penelitian sosiolinguistik yang pernah dilakukan masih memiliki beberapa perbedaan yang meliputi perbedaan sumber data, lokasi penelitian dan teori yang dipakai, sehingga hasilnya pun akan berbeda pula. Selain itu, peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti proses abreviasi/pemendekan kata yang sering dilakukan oleh para awak bus, sehingga dapat mengembangkan ilmu bahasa khususnya morfologi.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer dan Leoni Agustina. 2010. Sosiolinguitik Perkenalan Awal. Jakarta: IKAPI
Fajri dan Ratu Aprilia Senja. 2008. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Difa Publisher
Hamid, Mulkan. 2002. Buku Pintar Pepak Bahasa Jawa. Gresik: Nusantara Surakarta
Handayani, Ida Anom. 2012. “Karakteristik Pemakaian Bahasa Para Awak Bus Jurusan Pacitan-Solo”. Skripsi Srata 1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Universitas Muhamadiyah Surakarta
Kushartanti dan dkk. 2007. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
19
Laila dan Atiqa Sabardila. 2000. “Ragam Bahasa Transportasi Antarkota di Wilayah Surakarta”. Artikel Ilmiah. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Mutmainnah. 2008. “Pemilihan Kode dalam Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik Pada Masyarakat Jawa di Kota Bontang Kalimantan Timur”. Tesis Magister Linguistik. Universitas Diponegoro Semarang
Nababan. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar.Jakarta: PT. Gramedia
Purnamawati, Azizah. 2010. “Campur Kode dan Alih Kode Tuturan Penjual dan Pembeli di Pasar Johar Semarang”. Skripsi Strata 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas IKIP PGRI Semarang
Rahayu, Ni Luh Utami. 2009. “Alih Kode dalam Perkuliahan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali” dalam jurnal JIPP Nomor 1281 Juni 2009. Bali.
Rahmawati, Ade Leny. 2012. “Alih Kode pada Wacana Jual-Beli Komoditas Pangan di Pasar Sumber Cirebon”. Skripsi Strata 1 Sastra Indonesia. Universitas Diponegoro Semarang
Melia, Silviani. 2012. “Alih Kode dan Campur Kode dalam Percakapan Bahasa Indonesia Masyarakat Minang di Bandarlampung dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA” dalam Jurnal kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Volume 1 Nomor 2 Agustus 2012.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Perss
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: IKAPI
Sumarsono. 2008. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Suyanto. 1993. “Unsur Bahasa Jawa dalam Tuturan Bahasa Indonesia Pada Siaran Pedesaan TVRI Stasiun Yogyakarta”. Skripsi Strata 1 Sastra Indonesia. Universitas Diponegoro.
Suwito. 1996. Sosiolinguistik. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Wijana dan Muhammad Rohmadi. 2010. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rabu, September 25, 2013

The days

sewaktu waktu kamu akan tiba
pada sebuah ruang kosong
tak bernyawa dan menantikan kelahiran
waktu itu seolah menjelma siluman yang tiap detik siap menerkam
 menggerogoti
melucuti
bahkan memutilasi setiap poriporimu

#hari itu hujan
  ia tak pernah bisa mengartikan isyarat hujan akan datang
hanya diambisu
tibatiba sekejap badannya sudah basahkuyup

#hari itu matahari absen
tak terik maupun hujan yang turun lagi
ia masih tetap tak bisa mengartikan isyarat hujan akan datang
hanya diambisu
memakai mantel

#hari itu ia selalu memakai mantel
tapi ia masih tetap tak bisa mengartikan isyarat hujan akan datang
hari yang lalu ia basah karna kringatnya sendiri

#hari ini ia memutuskan
ia menelanjangi tubuhnya sendiri tanpa sehelai benang apapun
diambisu
masih tetap tak bisa mengartikan isyarat hujan akan datang
melipat lutut dan merunduk
"biar sekalian kubasah dan terbakar, karna kutakbisa mengerti akan isyarat apapun" katanya dalam secarik kertas yang ia pandangi sepanjang waktu.

Rabu, September 18, 2013

Mencintai Kekasihmu


Aku tidak tahu tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku harapkan tak mungkin aku dapatkan. Dan apa yang tak aku harapkan mereka malah silih berganti datang kepadaku.
Kenapa harus dia, kenapa bukan aku. Kenapa harus bersama dia, kenapa bukan dengan aku saja. If that love is blind, what must there’s. Oh no! I hate that with love is can’t the feel.
Arumi nampak sibuk dengan kebiasaannya; melukis, “Sampai kapan melajang Els?” ejeknya terkekeh, jemarinya masih lihai memulaskan kuas pada kanvas di depannya.
Kamu tidak tahu orang yang aku inginkan Mi, dan kalaupun kamu tahu, jangan tanya, kamu pasti menggemblengku habis-habisan, “Sampai aku mau,” balasku seadanya.
Halah, kebanyakan maunya gak jadi-jadi,”
Ada Dira tuh, kurang apa coba, pinter iya, cakep iya, tajir pula,” ekspresinya mengiyakan. “Satu lagi nih tuh anak demen banget sama kamu. Gak nyesel deh pokoknya,”
Halaah basi,”
Yo wis karepmu dewe,” kata Arumi dalam bahasa jawa yang berarti; terserah kamu saja.
Aku ketawa cekikikan mendengar sahabatku itu berbahasa jawa, kedengeran aneh, logat bataknya nggak pernah ketinggalan.
Heh ini anak malah ketawa-ketiwi, sarap lu!” katanya meninggalkanku di kamar sendiri.
*
Suasana pagi ini terasa musim semi yang baru memekarkan bunga-bunga keceriaan, bukan di luar negeri yang bersalju, gugur dan semi, melainkan ini di Indonesia, di kampus Fib Universitas Dipo. Siapa bilang Indonesia tak seindah Jepang; batinku. Pohon-pohon tinggi yang berbunga kuning itu menghiasi jalan dengan guguran bunganya, entah pohon apa itu aku tak tahu namanya. Dapz! aku melihat Barie.
Duh hatiku tiba-tiba panas Mi,” sambil mengerat baju yang aku kenakan. Huft, jantungku berasa digebukin orang sekampung.
Aneh-aneh aja sih! Kamu sakit?” tanyanya serius.
Aku terkekeh, “Hehe… nggak, tapi nggak tahu hatiku rasanya sakiiiit, ngilu!” dengan ekspresiku yang gak karuan.
Ah dasar lu!” Teloyoran Arumi di kepala menyentakkanku, “Kayak orang cemburu saja, panas,” memang; batinku.
Uh, Tuhan kenapa hatiku rasanya sakit begini melihat mereka berdua; Barie feat Silvi. Masih ku perhatikan kedatangan mereka yang sedang memarkir motor, berjalan menuju ruang kelas. Barie merangkul pundaknya, tawa renyahnya masih sama. Seandainya itu aku.
Aku mencoba menetralisir perasaan ini tapi terkadang keruh dan muncul lagi. Sesekali aku biarkan kebahagiaan itu lepas dan terbang bersama sayapnya. Menepis semua kegalauan rasa yang tak pernah aku dapatkan. Aku biarkan pergi jauh. Meniti setapak jalannya dengan hati yang tersisa.
*
Sudahlah Raf, jangan hubungi aku lagi dengan kata-kata manismu itu. Nggak bakal mempengaruhi aku, ngerti!”
Kata-kata manis apa, aku beneran kangen sama kamu,”
Kalau kamu masih dengan sikapmu yang seperti ini, aku nggak akan segan-segan aduin ke cewekmu!”
Heh jangan! Kok tukang ngadu gitu sih sekarang? Aku cuma butuh teman yang dapat ngertiin aku Els, dan cuma kamu yang selama ini dapat ngertiin aku,”
Makan saja pengertian itu, bagiku semua rasa sudah hilang, lenyap ditelan paus! “Maaf Raff, aku masih harus ngerjain tugas nih,”
Hmm… ya udah… maaf sudah ganggu,” nadanya berubah sendu, aku bilang nggak apa-apa dan telpon aku tutup seketika. Jahat? Biarin!
Dia lagi Els?” tanya Arumi yang sedari tadi di sampingku sambil membaca komik.
Yah siapa lagi,” aku melenguh kesal.
Katanya dia sudah punya pacar lagi, tapi kenapa masih ngehubungin kamu gitu?”
Cari sensasi aja kali Mi, dah lah gak perlu digubris,” ku ambil novel di rak buku dan mulai membacanya di samping Arumi yang berbaring di ranjang. Ku tengok sejenak, dia masih serius membaca.
Aku tak kuat menahan rasa cemburu; aku berpikir untuk menceritakan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Barie, tapi urung. Mulutku sudah siap mau becerita tapi hatiku kembali menahan, begitu seterusnya.
Arumi melirik ke arahku, “Kenapa sih Els? Cerita deh! aku tahu dari kemaren kamu pasti memendam sesuatu?” nadanya terdengar geram bercampur sebal. Aku yakin dia sudah geregetan menginginkan aku buka mulut.
Kamu masih cinta sama Raffy?” matanya melotot seperti bola yang siap melayang ke gawang, gila! Aku menangkis pernyataannya bahwa aku sama sekali tidak menyisakan perasaan apa-apa ke Raffy, yang ada hanya ruang kebencian yang sudah semakin penuh dengan kemuakan.
Arumi mengubah posisi tidurannya dengan duduk menatapku serius, “Terus apa Els?”
Tapi janji Mi jangan salahkan aku, dan jangan bilang ke siapapun?” aku memohon dengan mengacungkan jari kelingkingku.
Ok ok, tapi apa?”
Mi aku nggak tahu apa yang aku rasain ini Mi, aku rasanya sakit, cemburu, dan… entahlah,” aku tak bisa meneruskan lagi kata-kata itu. Perasaan yang aku netralkan telah muncul lagi dan menguak di permukaaan.
Cemburu sama siapa? Kamu nggak lagi pacaran dan juga mencintai seseorang kan?”
Sama B.a.r.i.e,” ku ejakan dengan hati-hati nama itu.
Heh?!” Arumi terheran-heran, “Gimana bisa Els, dia sudah punya Silvi!” katanya sengit.
Aku menyela agar kata-katanya tak berlanjut yang ujung-ujungnya kan menyalahkan perasaanku, “Aku tahu itu, dan aku juga tak tahu kenapa aku tiba-tiba mengagumi sosok Barie seperti itu,”
Tunggu, tunggu,” Arumi menyela, “Jangan-janagn kamu putus sama Raffy gara-gara kamu mencintai Barie sahabat Raffy sendiri?” Arumi semakin menduga-duga.
Spontan aku meneloyor kepalanya, “Heh gak lah, gila apa! Perasaan ini sudah jauh-jauh hari saat aku sudah putus sama Raffy. Aku gak tahu Mi, melihat sosok Barie aku seperti menemukan lelaki yang aku harapkan, sikapnya, dan caranya mencintai Silvi itu yang aku suka. Semua itu berbeda Els,”
Dan kamu tahu Els, di Facebook mereka yang sering aku temui photo-photo bareng, status dan komen di antara keduanya, semua itu membuat aku cemburu Els, and satu hal lagi yang perlu kamu tahu bahwa aku sadar apa yang aku rasain ini sudah nggak bener!” tambahku kesal, bete, dan jujur.
kejujuran yang paling menyakitkan itu membuatku tak kuat menahan air mata, jujur aku ingin sekali melawan rasa itu, tapi tak pernah bisa; rasa itu kerap muncul dikala aku melihatnya berdua dengan Silvi.
Aku harus bagaimana Mi, aku nggak mau sampai mencintai Barie, aku cuma sekedar kagum, tapi kenapa harus ada rasa-rasa seperti itu sih?” nadaku kesal.
Muka Arumi mengkerut, “Haduh, berarti kamu emang sudah mencintainya. Tapi ya…,”
Tapi apa?” tanyaku penasaran.
Nggak tahulah Els, mereka sama-sama temen kita, dan gak mungkin juga kamu menyampaikan hasrat itu, aku tahu bagaimana kamu,” seperti apa yang dipikiran Arumi bahwa aku memang gak mungkin melakukan hal bodoh untuk mengusik percintaan mereka, gak mungkin.
Kata-kata Arumi itu hantu paling berhasil yang membuatku ketakutan dan insomnia taraf akut lagi, jam dua dini hari aku masih belum terpejam. Tuhan, aku ingin tidur. Argh! Bantal ku timpuk-timpukan di mukaku.
***
“Els, kemaren Raffy cerita sama aku,” Barie tiba-tiba menghampiri dengan duduk disebelah bangku yang aku duduki. Aku gelagapan menanggapi kehadirannya yang gak aku duga, tapi kenapa topiknya Raffy sih, bete!
“Eh kamu Bar,” kataku menoleh kepermukaan mukanya, dan tak lama aku tundukan untuk kembali membaca buku yang aku pegang.
“Ternyata dia gak bisa nglupain kamu Els,” Raffy mulai bercerita.
Aku tercekat, pengen marah, “Bar kamu sebenarnya tahu gak sih Raffy kayak gimana, kelakuan dan sikapnya dia seperti apa,” kataku cadas.
“Maksudnya?” Raffy bingung.
“Kamu tahu gak sih aku sama dia putus gara-gara apa?!” Barie diem; terlihat linglung.
Maaf Bar, kalau kata-kataku cetus,” sambungku kemudian, berharap dia gak ilfil ma perkataanku yang cetus itu.
Barie terkekeh parau, “Iya sih kenapa lu nya sewot gitu. Santai Els, kenapa sih?”
Males banget sebenarnya bahas Raffy lagi, belum cukup apa sama yang dia lakukan dibelakangku. Akhirnya aku ceritakan apa yang aku tahu dan apa yang membuatku gak mau tahu apa-apa lagi tentang Raffy ke Barie.
“Jadi dia selingkuh?”
“Seperti itu yang aku tahu, dan sekarang dia sudah punya cewek tapi tetep masih ngarep sama aku,” telunjukku ku posisikan miring di kening, “Sinting tu anak!”
Barie jadi salting dan gelagapan; mungkin dia malu kali punya teman dekat yang kayak gitu, “Duh gimana ya Els, aku juga kurang tahu, kemaren emang sempat cerita sih kalau dia pacaran sama anak FISIP tapi cuma buat pelarian gara-gara gak bisa lupain kamu,”
“Dan sekarang kamu ingin aku balikan sama dia?” aku tatap mata Barie dalam-dalam.
“Hehe.. tadinya Els, tapi terserah sama kamu,”
“Kamu tega Bar, kalau aku ini disakiti dia lagi?” dapz pertanyaanku ngawur banget, kenapa aku jadi yang ngarep gini ya, “Maksud aku sebagai teman kamu, apa kamu tega liat temenmu ini sakit hati lagi dengan orang yang sama?”
“Tentu gak Els,” dia membalas tatapan mataku.
“Hei!” Silvi tiba-tiba datang menghampiri, “Pada ngapain sih serius amat mukanya?” Barie beralih pandang ke Silvi, dan aku hanya membalas sapaan Silvi dengan senyum limit. Aku bergegas pergi meninggalkan mereka, saat aku toleh kebelakang; Barie beranjak dan mengait tangan Silvi.
*
Hujan yang lebat membuatku terpasung di emperan toko, tak bisa pulang. Petir menyambar-nyambar.
“Pakailah,” aku tercekat, Barie memakaikan jaketnya di pundakku.
Tuhan, ini moment yang paling indah buatku. “Makasih Bar, tapi kamu?”
“Gak apa-apa pakai saja,” aku celingukan memutar leher; Silvi mana? Dan Barie bilang Silvi pulkam tadi pagi. Hmm… aku menarik nafas lega.
“Puokk!” tinjuan Raffy melayang di muka Barie.
“Raffy!!!” teriakku, dan seketika aku melindungi Barie dengan tubuhku, Raffy masih tetap berusaha untuk memukulinya.
“Brengsek kamu Bar!” ada apa sih sebenarnya Raffy ini. Tiba-tiba datang main pukul.
“Gila kamu Raf!” serangku.
“Tenang Raf, ini gak seperti yang kamu kira, aku cuma gak sengaja ketemu Elsa di sini,” jelas Barie kemudian, tangannya sembari menyeka tetes darah yang keluar dari tepi bibirnya.
“Gue gak percaya!” Kata Raffy lantang, “Sebenarnya ada hubungan apa sih dengan kalian berdua?!” masih dengan emosi, matanya beralih ke arahku, “Ow jadi gara-gara Barie ini kamu sering ngehindar dari aku Els?!” bentaknya sambil menelunjuk ke arah Barie.
Dia pikir aku siapanya dia sekarang, seenaknya saja marah-marah kayak gitu.
Kalau iya kenapa?!” balasku menantang. Raffy gelagapan dengan kata-kataku tadi, aku gak peduli dan aku tinggalkan mereka berdua. Jaket aku lepas dan kukembalikan ke tangan Barie. Ku terobos hujan yang masih tak bersahabat.
Els!” panggil Raffy.
Aku gak peduli. Aku tetap melangkah pergi tanpa menorah ke belakang.
Barie masih berusaha meyakinkan Raffy agar tak salah paham, “Sory Raf, sory aku benar-benar gak sengaja ketemu dia disini, aku pinjamkan jaketku saja saat kulihat dia kedinginan,”
Puokkk! Timpukan Raffy melayang lagi di muka Barie, “Aku gak percaya lagi sama kamu!”
Aarcghh!” sesal Barie, dan Raffy telah landas dengan mobilnya.
Barie masih dengan sejuta tanyanya tentang perkataanku pada Raffy waktu itu, terkadang dia begitu perhatian, hadir sebagai obat yang akan menenangkan.
Ada apa denganmu Barie? Tanyaku dalam hati; aku tak mau berharap lebih.
Els, kamu begitu akrab dengan Barie sekarang,” kata Silvi yang menyentakkan lamunku.
Engg.. gak, biasa saja Vi,” kataku gelagapan, “Cuma sekedar ngobrolin seputar tugas kuliah kok,”
Silvi tersandar di bahuku, dapat kurasa getar jiwanya yang kalut, “Barie minta putus sama aku,” kata Silvi sesenggukan.
Tiarap. Aku seperti kena tembakan meriam yang menghancurkan seluruh sendi-sendi tulangku. Lemas tanpa daya.
###