Pages

Jumat, Juni 25, 2010

PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA DAN KONFLIK BATIN DALAM NOVEL KEMBANG KERTAS KARYA ENI MARTINI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Masalah
Ada beberapa macam pendekatan yang dapat dilakukan dalam menelaah karya saatra diantaranya dengan pendekatan psikologi, yang secara ringkas dapat dirumuskan bahwa pendekatan psikologi baik yang bersumber dari gagasan Freud maupun Jung, mencakup empat penyelidikan yakni:
1. psikologi pengarang sebagai tipe dan individu
2. bagaimana terjadinya proses penciptaan karya sastra
3. sejauh mana psikologi diterapkan dalam karya sastra, dan
4. pengaruh karya sastra pada pembacanya.
Mengenai penyelidikan yang dapat dipandang bentuk lain dari kesadaran sastrawan; atau penyelidikan karya sastra dari teori mimpi Freud, seperti yang dikatakan Max Miliner atau penyelidikan karya sastra dalam kaitannya dengan masa lalu dan proses pembentukan psikis manusia, sebenarnya bukan wilayah ilmu sastra dalam pengertian yang khusus. Penyelidikan tersebut termasuk ke dalam wilayah psikologi. Demikian juga masalah yang menyangkut pengaruh karya sastra kepada pembaca dapat dimasukkan ke dalam psikologi jika pusat perhatiannya menyangkut reaksi psikis pembaca , tetapi juga dapat dimasukkan ke dalam sosiologi sastra (sosiologi pembaca), jika pusat perhatiannya karya itu berpengaruh pada masyarakat pembaca.
Hampir manusia mengalami konflik batin, konflik yang disebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku, sedangkan batin itu tersendiri adalah yang terdapat di dalam hati, yang mengenai jiwa, membatinkan, merahasiakan, menyembunyikan, menyimpan di hati. Didalam novel ini konflik batin sangat mendominasi alur ceritanya. Konflik batin yang dialami tokoh utama Kartini ditinjau secara psikologi dengan berdasarkan konsep dalam teori psikologi Abraham Maslow yaitu konflik batin akibat tidak terpuaskannya (a) kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis, (b) kebutuhan rasa aman, (c) kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, (d) kebutuhan akan harga diri, (e) kebutuhan akan aktualisasi. Hasil analisis menyatakan bahwa konflik batin telah mempengaruhi kondisi psikologis Kartini, konflik batin yang dialami berakibat pada pembentukan pribadi yang tidak sehat, Kartini mengalami kelainan pada seksualitasnya..
Begitu juga dalam puisi, telah kita ketahui bahwa puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan di susun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya, dengan memperhatikan tata bahasa dalam puisi itu.

1.2 Permasalahan dan Ruang lingkup
Sastra dipahami sebagai sebuah bangunan yang menciptakan dunia rekaan bagi sang pembacanya. Bangunan dunia rekaan itu merupakan kesatuan organik sejumlah unsur pembentuk yang saling terkait secara erat. Unsur-unsur pembangun karya sastra itu adalah tema, sudut pandang, latar, tokoh, dan alur. Tiap pengarang memandang suatu persoalan dari sudut pandang tertentu. Berdasarkan sudut tinjauannya itu, ia kemudian merangkai unsur-unsur pembangun kisahnya dalam suatu jalinan yang erat dan efektif untuk mengungkapkan permasalahan yang akan disampaikannya. Dengan demikian, tiap karya sastra menyajikan dunia rekaan yang unik,hasil khas ciptaan pengarangnya. Berdasarkan hal tersebut, masalah yang akan dijelaskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Bagaimanakah konflik batin, pendekatan psikologi sastra yang terjadi dalam novel kembang kertas?
2) Bagaimanakah unsur-unsur pembangun struktur karya sastra yang terdiri dari tema, sudut pandang, latar, tokoh, alur dari novel kembang kertas?
3) Bagaimanakah tata bahasa dalam puisi Kawanku dan Aku karya Chairil Anwar?


1.3 Tujuan
Alasan-alasan yang telah dikemukakan pada latarbelakang di atas merupakan faktor pendorong dilakukannya penelitian ini, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran unsur psikologi manusia (tokoh) dalam novel Kembang Kertas dan menyampaikan maksud dari sang penulis bahwa hadirnya novel Kembang Kertas ini bukan ingin melegalkan Lesbianisme, tetapi novel ini lebih menceritakan tentang pergolakan batin seorang anak manusia dalam memahami perubahan dalam dirinya. Kita boleh menolak dan jijik atau menganggap mereka sampah tapi kita juga harus memberi tempat, bahwa mereka juga manusia, sama seperti kita. Karena tak seorang perempuan pun ingin dilahirkan sebagai Lesbian.
Dan kita dapat mengetahui tata bahasa atau gaya bahasa ( stilistika deskriptif ) dalam puisi Kawanku dan Aku karya Chairil Anwar.




1.4 Kerangka Teori

Psikologi sastra melakukan pendekatannya dengan melibatkan tiga unsur, yaitu pengarang sebagai pencipta, karya sastra dan pembaca selaku penikmat.
Pada tahap awal karya sastra dianggap sebagai proyeksi pengarang. Aspek-aspek emosi yang terdapat dalam karya itu dianggap mewakili emosi-emosi pengarang. Dengan begitu latar belakang pribadi pengarang yang menjadi beban penyelidikannya. Lewat pendekatan psikologi, diharapkan dapat terungkapkan bagaimana pengalaman pengarang amat menentukan isi karyanya, seperti gaya, tema dan penggambaran watak para tokoh penciptaannya.
Pada tahap kedua berusaha menyelidiki “misi” pengarang yang teerkandung dalam karyanya, dalam hal ini pembaca dianggap sebagai objek sasaran pengarang.
Pada tahap ketiga berusaha menelaah puisi dengan tata bahasa yang di gunakan.



1.5 Metode
Metode yang dipergunakan dalam peneliitian ini adalah metode deskriptif . dengan memilih salah satu unsur dalam novel Kembang Kertas yakni aspek konflik batin ditinjau dari pendekatan psikologi sastra. Kemudian dengan menggunakan metode stilistika deskriptif pada puisi.

BAB II
PEMBAHASAN

PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA DAN KONFLIK BATIN DALAM NOVEL KEMBANG KERTAS KARYA ENI MARTINI

2.1 Pendekatan Psikologi Sastra dan konflik batin dalam novel Kembang Kertas
Pendekatan psikologi adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperhatikan perilaku yang beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Di zaman kemajuan teknologi seperti sekarang ini manusia mengalami konflik kejiwaan yang bermula dari sikap kejiwaan tertentu bermuara pula kepermasalahan kejiwaan (Semi, 1990:76).
Dalam novel Kembang Kertas (2007) karya Eni Martini ini berisi tentang pergulatan batin seorang wanita dalam mencari dan menemukan jati dirinya di tengah kehidupan kosmopolit. Novel yang sangat menawan untuk di perdalami, dan tampaknya diangkat dari sebuah kisah nyata, yang sepertinya sang penulis ingin berbagi cerita dengan kita semua tentang bagaimana seorang wanita harus memenangkan dirinya, mengikuti kata hatinya, bagaimanapun pahit stigma yang harus diterimanya. Atas nama kejujuran hati dan orisinalitas diri, dia harus memutuskan menjadi seorang lesbi.
Kartini adalah tokoh utama dalam novel ini, Ia merupakan sosok pribadi yang cantik, pintar dan menawan, bahkan di sekolah maupun di kampus ia terkenal dengan julukan Kembang, karena banyak lelaki yang jatuh hati padanya. Tetapi semua itu tidak dapat membuat Kartini tertarik, diam-diam dia memendam perasaan kepada sahabatnya Sinta, dan dia menyadari persaannya itu tidak wajar. Sampai dia harus kuliah di Boston Amerika, dan bertemu dengan Juliet.
Kartini segera meraih tangan gadis itu, di usapnya pipi Juliet, dan diciumi dengan mata terpejam. Dua puluh tahun dia memberangus perasaannya, sampai kemudian terbang ke Boston. Berkenalan dengan Juliet, gadis cantik berdarah Filipina-Amerika dengan sepasang mata biru cerah seperti buah kenari, dan postur tubuh jauh melampauinya. Yang ternyata memiliki kesamaan rasa. Hidup Kartini langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Persaannya lepas bagai burung di alam bebas , sampai kemudian kuliahnya selesai, dia harus kembali ke tanah air berkumpul dengan keluarga, famili dan teman-temannya. Dia kembali seperti dulu. Jadi apa artinya perubahan sesaat itu, keindahan semu, tepatnya begitu.
“ Andai keluarga dan masyarakat di negaraku dapat menerima persaan kita, Juliet. Mungkin apa yang kita inginkan bersama akan terwujud. Kadang,aku menyesali juga. Mengapa mereka jijik untuk menerima kita. Tapi persaan ini memang tidak lazim.” Kartini terisak (hlm.16)
Perasaan yang sama-sama itu di rasakan oleh Kartini dan Juliet. Kartini masih memandang kehormatan dan adat istiadat yang ada di dalam lingkungan keluarganya sehingga dia tetap menjaga persaannya agar semua keluarga dan teman-temannya tidak mengetahui akan hal itu, sebab itu semua akan mencoreng nama baik keluarganya. Sampai Kartini harus menikah dengan Romi, lelaki pilihan orangtuanya. setelah menikah dengan Romi, Kartini selalu berusaha untuk memenuhi kewajiban seorang istri, meski pada akhirnya ia selalu di suruh Romi untuk datang ke psikiater, tetapi berulang kali Kartini menolak usulan tersebut. Tiba pada saat itu Kartini hamil, hal itu adalah anugrah terbesar bagi hidupnya.
Kartini kehilangan kata-kata, masih tak percaya oleh kenyataan yng diterima, dirinya hamil. Tuhan, benarkah semua itu? Air mata telah memenuhi mata Kartini, jatuh meleleh di pipinya. Dalam hidupnya baru kali ini Kartini mersa Tuhan demikian baik memberinya rasa sebagai perempuan yang sesungguhnya. Perasaan seorang perempuan hakiki. Dia seorang perempuan, lalu akankah setelah ini ia akan memiliki perasaan seorang perempuan yang normal? (hlm.79)
Setelah anak perempuannya lahir sekitar umur dua tahun, mereka sepakat untuk mencari babysister dan kemudian Kartini memutuskan untuk bekerja lagi di salah satu bank terkemuka di Jakarta. Di tempat kerja barunya ini ia bertemu dengan Nadia yang berkepribadian sama dengannya, sampai Nadia harus di kucilkan oleh teman-teman sekantornya karena dia mencintai rekan perempuannya sendiri yang bernama Fifi. Waktu itu di kantor sempat terjadi pertengkaran antara Nadia dan Fifi, sampai Kartini ikut angkat bicara.
“Siapapun orangnya tidak mau dilahirkan cacat. Apakah ini keinginan Nadia untuk terlahir sebagai lesbi? Kalau bisa dia memesan lebih dahulu, dia pun ingni dilahirkan menjadi wanita biasa seperti kamu, yang memiliki kedudukan mulia, dan bisa mencintai laki-laki…” (hlm.83)
Tidak hanya Fifi dan rekan kerja lainnya yang tertegun oleh kata-kata Kartini, Nadia sendiri pun hampir tidak percaya. Setelah kejadian tersebut hubungan Nadia dengan Kartini menjadi lebih dekat. Namun apa yang di khawatirkan oleh Kartini pun terjadi, Nadia jatuh hati padanya, rasa itu sangat berpengaruh pada batin Kartini yang berusaha untuk sembuh dari kelainannya tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Masalah seakan akan tidak berhenti dalam kehidupannya, Romi suaminya yang baik dan sabar menghadapi sikap Kartini pun tega selingkuh dengan sekretaris di kantornya. Dia menjadi jarang pulang ke rumah, jarang memperhatikan keluarganya lagi termasuk dengan putri semata wayangnya Diva. Konflik-konflik bermunculan disini, di dalam hatinya dia menghendaki kalau suaminya mencintai orang lain karena dia sendiri menyadari kalau dirinya tidak bisa seperti yang di harapkan oleh suaminya. Tetapi, disisi lain Diva butuh kasih sayang dan perhatian dari Romi. Suatu hari saat Kartini merasa resah dan gelisah, Nadia ada untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut. Di sini Romi memergoki Kartini dengan Nadia yang sedang bercinta di kamarnya. Kartini tidak bisa mengelak lagi, rahasia yang sekian tahun lamanya terpendam rapat-rapat oleh Kartini akhirnya diketahui semua. Romi langsung mengajukan cerai seketika. Dan memberikan dua pilihan yang sama-sama berat buat Kartini yaitu dia harus menyerahkan Diva anaknya atau Romi berterus terang kepada keluarganya dan keluarga kartini, bahwa dia lesbi.
Suatu hal yang sama dilakukan Kartini adalah menelpon Juliet lagi untuk berbagi dan meminta nasihat, bahwa selama ini yang selalu mengerti dirinya adalah Juliet. Juliet menyarankan agar Kartini jujur saja.
“ Tiga puluh tahun lebih kau menutupi sebuah kenyataan, selama itu pula akau berkorban perasaan. Selama itu sangat menyakitkan, Kartini. Dan tidak ada penyelesaian jika ka uterus mempertahankan kebohongan itu, please jangan jangan menyembunyikannya, Kartini…” Juliet mengungkapakan uneg-unegnya selama ini.
“ Itu gila Juliet! Bagaimana mungkin kau memintaku untuk mengatakan pada keluargaku, bahwa aku… lesbi?” Kartini memekik, kehilangan akal atas ucapan Juliet barusan. (hlm.135)
Akhirnya Kartini memutuskan untuk jujur meski harus menerima kepahitan yang luar biasa sakitnya, dia di usir dan tidak di anggap anak oleh Ayahnya lagi. Kartini membawa Diva ke Boston untuk hidup bersama Juliet selamanya.
Dapat dilihat dari cerita novel Kembang Kertas bahwa pendekatan psikologi sastra ternyata memiliki beberapa manfaat dan keunggulan, seperti diungkapkan oleh Semi (1990:80), sebagai berikut (1) sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan, (2) dengan pendekatan ini dapat memberi umpan balik kepada penulis tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya, dan (3) sangat membantu dalam menganalisis karya sastra Surrealis, Abstrak atau Absurd dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya-karya semacam itu. Menurut Aminuddin (2004:55) dan Semi (1988:66) pendekatan psikologi sastra juga dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal. Pertama, untuk memahami aspek kejiwaan pengaarang dalam dalam kaitannya dengan proses kreatif karya sastra yang dihadirkannya. Kedua, untuk mengeksplorasi segi-segi pemikiran dan kejiwaan tokoh-tokoh utama cerita, terutama menyangkut alam pikiran bawah sadar.

2.2 Unsur-unsur intrinsik
Tema adalah pokok pikiran yang mewakili cerita atau karangan yang kemudian di kembangkan. Di dalam novel ini bertemakan psikologi manusia.
Amanat adalah pesan yang ingin di sampaikan oleh sang pengarang kepada sang pembacanya. Di dalam novel Kembang Kertas ini sang pengarang ingin menyampaikan bahwa kita harus bisa menghargai dan memberi tempat kepada sesama. Karena setiap orang memang memilki garis kehidupan sendiri-sendiri, dan tidak semua di lahirkan dalam keadaan sebagaimana umumnya, seperti yang di alami oleh tokoh Kartini di dalam cerita novel tersebut yang memilki kelainan pada seksualitasnya( lesbi ). Kita tidak boleh menolak, jijik atau menganggapnya sampah, tapi kita harus memberi tempat, bahwa mereka juga manusia, sama seperti kita.
Alur ( plot ) adalah kronologis jalannya sebuah cerita, yang terdiri dari alur maju, alur mundur, dan alur campuran ( maju mundur ). Di dalam novel ini menggunakan alur campuaran. Dapat terlihat dari jalannya cerita yang berawal dari kepulangan Kartini dari Boston ke Indonesia, terus menceritakan pada masa-msa SMA dan di Kampusnya dulu, kemudian baru menceritakan masa-masa Kartini yang sekarang pada saat itu sampai dia menikah dan punya anak.
Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam sebuah cerita yang menggambarkan sosok tokoh-tokoh yang di ceritakan sehingga dapat di ketahui bagaimana karakter dan perwatakannya. Tokoh utama dalam novel ini adalah Kartini, yang memiliki baban psikis. Bahwa dia adalah seorang lesbi.
Latar / setting adalah tempat dan waktu dalam cerita tersebut.


BAB III
TATA BAHASA PUISI KAWANKU DAN AKU KARYA CHAIRIL ANWAR

KAWANKU DAN AKU
Kepada L.K Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia tanya jam berapa!
Sudah larut sekai
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti

5 juni 1943 CHAIRIL ANWAR
Kerikil Tajam dan yang Terempas dan yang Putus, 1950

Dalam membaca sajak kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal. Pada satu pihak sebuah sajak atau lebih luas sebuah karya sastra atau karya seni pada umumnya, merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom dan yang boleh dan harus kita pahami dan tafsirkan pada sendirinya. Sebuah dunia rekaan yang tugasnya hanya satu saja, patuh setia pada dirinya sendiri. Tetapi pada pihak lain tidak ada karya seni mana pun juga yang berfungsi dalam situasi kosong. Tetapi selain itu tata bahasa juga berpengaruh terhadap karya sastra, pada puisi misalnya. Pengarang membangkitkan beberapa kemungkinan yang terkandung dalam system bahasa yang bersangkutan.
Pada kalimat pertama : kami jalan sama. Terjadi penghancuran model tradisi, bahasa indonesia ( bahasa melayu ) yang buruk sekali. Kalimat singkat itu telah bertentangan dengan aturan tata bahasa indonesia yang pada waktu itu masih berlaku, dan juga menghancurkan konvensi bahasa yang indah. Menurut tata bahasa perlu dikatakan, misalnya, Kami berjalan bersama-sama. jelas disini sang penyair menciptakan karyanya dengan ,menggunakan bahasa baru yang tidak sesuai dengan tata bahasa pada masa itu. Didalam sajak ini tidak ada pelanggaran hukum bahasa indonesia lagi, kecuali pada larik terakhir, dengan kata punya yang pada waktu itu masih substandar, belum dianggap baku, bersifat melayu pasar yang pasti dalam konvensi belum dapat diterima.
Ada beberapa kehalusan dalam pemanfaatan aspek tata Bahasa Indonesia dalam sajak ini. Ada bentuk me-: menembus, mengucur, mengental dan mengelucak. Seperti diketahui secara umum bentuk me- biasanya menunjuukan aspek agentif dari kata kerja; pelakulah yang menjadi pusat perhatian. Banyak di antara kata kerja dengan me- bersifat transitif, dan kalaupun obyek tidak terdapat, secara potensial objek itu sering mungkin, ada tempat kosong untuk obyek. Bentuk me- yang pertama tidak ambigu : menembus kabut jelas maknanya dan susunannya, hanya yang menarik dalam kalimat ini tidak ada agen yang eksplisit : yang menembus kabut dapat kita ambil dari kalimat sebelumnya : kami- tetapi justru oleh karena subyek tidak disebut suasana umum ikut serta memainkan peranan subyek.
Sebuah larik tersebut tidak hanya berfungsi untuk membayangkan suasana muram, misalnya di pelabuhan tempat kawanku dan aku sedang berjalan. Kedua kapal yang sedang dimaksudkan disini secara metafora tidak lain hanya si-aku dan kawannya, larik ini pun membayangkan kekakuan maut, rigor mortis, yang selanjutnya diekspresikan dalam bagian sajak yang kemudian. Kapal-kapal yang sudah menjadi kaku satu sama lain, jadi yang tidak berlayar lagi, dan juga tidak berkomunikasi lagi, sudah hilang maknanya.
Larik yang berikut, yamg paling panjang dalam sajak ini, terdiri bangunan yang sejajar, yang pertama menunjukan kondisi darah si aku, yang kedua menunjukan kondisi si sku seluruhnya: yang pertama dapat disebut pars pro toto, bagian yang mewakili seluruhnya ataupun dapat dikatakan dalam hubungan sebab akibat. Yang menonjol disini ialah pemakaian kata mejemuk, yang sekali lagi merupakan pemanfaatan kemampuan Bahasa Indonesia di bidang morfologi secara kreatif. Kata majemuk ini seragam, kedua-duanya terdiri atas dua unsure yang searti atau hampir seperti, hal itu tidak jarang dalam Bahasa Indonesia, sudah konvesional, sedangkan produktivitas tipe majemuk ini tidak begitu besar. Sajak ini mengaktualisasi kemampuan ini dengan dua bangunan yang prisinil. Yang pertama menunjukan cirri khas lagi, sebab memanfaatkan kata turunan dengan awalan me- dari kata sifat.
Pada larik Dia bertanya jam berapa! Secara tata bahasa Siapa berkata dan Dia bertanya ekuvalen sepenuhnya : kedua-duanya terdiri atas kata ganti, di ikuti oleh kata kerja berbentuk intransitif dengan awala ber-. Dan tanda seru di belakang Dia bertanya jam berapa! Yang seharusnya memakai tanda tanya.
Dalam bait berikut kondisi si kawan di bayangkan, judul sajak ini yang tadi begitu sederhana dan polos ( kawanku dan aku ) didramatiskan oleh pemerincian kondisi kedua tokoh ini berturut-turut, secara berangsur-angsur : tadi si aku sekarang kawanku. Dari segi tata bahasa dalam bait ini perlu diberi perhatian pada kesejajaran antara bangunan sintaktik dera mengelucak tenaga dengan yang tadi kita baca hujan mengucur badan.
Bait terakhir menonjol karena tidak terlibat lagi kata yang polimorfematis, yakni yang terdiri lebih dari satu morfem, atau yang mengandung afiks ( kecuali sekali, tetapi sekali dalam Bahasa Indonesia barangkali sudah kehilangan cirri kata turunan oleh kebiasaannya). Ketiadaan kata-kata yang kompleks dari segi tata bahasa tidak kebetulan dan merupakan sebuah ciri minus, yang dalam bahasa puisi seringkali tak kurang efektifnya dari ciri-ciri khas yang lain. Pemakaian kata-kata dasar dalam bait ini, tanpa kata keturunan, menyarankan ketiadaan struktur lagi, kehilangan arti, kekakuan yang telah meresapi segala sesuatunya, sistem morfologi yang dapat dibandingkan dengan darah daging Bahasa Indonesia telah larut, seperti badan aku dan kawanku yang “dikucur” oleh hujan.











BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyelidikan karya sastra dalam kaitannya dengan masa lalu dan proses pembentukan psikis manusia, sebenarnya bukan wilayah ilmu sastra dalam pengertian yang khusus. Penyelidikan tersebut termasuk ke dalam wilayah psikologi. Demikian juga masalah yang menyangkut pengaruh karya sastra kepada pembaca dapat dimasukkan ke dalam psikologi jika pusat perhatiannya menyangkut reaksi psikis pembaca. Dan konflik batin juga dapat mempengaruhi kondisi psikologi. Serta tata bahasa dalam puisi juga berperan untuk mengetahui isi, kekurangan dan kelebihan puisi tersebut, serta dapat mempelajari sistem bahasa yang terkandung didalamnya.







DAFTAR PUSTAKA


Oemarjati, Boen S, Saksono Prijanto dan B. Trisman. 2000. Telaah Struktur Estetika dan Tema. Jakarta : Pusat Bahasa
Noor, Redyanto. 2009. Pengantar Pengkajian Sastra, ed. 3. Semarang : Fasindo
Teew, A. 1980. Tergantung Pada Kata. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya
http://www.sastra-indonesia.com/2009/01/kritik-psikologi-telaah-empat-sasaran ( diakses pada
tanggal 27 Desember 2009 )
http://search-engine.com/novel-bumi-manusia-dengn-pendekatan-psikologi-sastra-pdf.html
( diakses pada tanggal 27 Desember 2009 )

0 komentar:

Poskan Komentar