Pages

Minggu, Oktober 03, 2010

Analisis Tentang Kebudayaan Perang Obor di Jepara, Jateng

SINOPSIS


Judul : Perang Obor
Asal : Desa Tegal Sambi, Jepara


Cerita rakyat yang berasal dari Tegal Sambi ini menceritakan tentang kisah seorang petani yang kaya raya yang memiliki banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi, petani tersebut bernama Mbah Kyai Babadan. Untuk menggembalakannya seorang diri tentu Mbah Babadan tidak sanggup, sehingga dia mencari orang untuk jadi penggembala binatang-binatang piaraannya. Orang yang menggembala binatangnya tersebut bernama Ki Gemblong. Ki Gemblong ini sangat tekun dalam memelihara, sehingga binatang-binatang piaraannya tersebut tampak gemuk-gemuk dan sehat. Tetapi pada suatu hari Mbah Babadan terkejut dan bingung melihat binatangnya berubah menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit, selidik demi selidik ternyata penyebabnya adalah Ki Gemblong sudah mulai lalai dalam menjalankan tugasnya. Pada saat menggembalakan Ki Gemblong malah asyik menangkap ikan dan membakarnya di Kandang setiap hari, sehingga melupakan binatang-binatang yang dipiaranya. Mengetahui hal semacam itu Mbah Babadan marah besar dan langsung menemui Ki Gemblong yang sedang asyik membakar ikan di kandang, diambilnya sebuah obor yang terbuat dari pelepah kelapa untuk menyerang Ki Gemblong dan Ki Gemblong juga mengambil sebuah obor untuk membalas serangan Mbah Babadan., maka terjadilah perang obor yang apinya berserakan kemana-mana, sehingga tanpa sengaja membakar tumpukan jerami yang ada disebelah kandang, binatang-binatang yang berada di kandang lari tunggang langgang, dan malah menjadi sehat dan gemuk-gemuk setelah kejadian hal tersebut.
Kejadian yang tidak diduga tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegal Sambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor segala jenis penyakit dapat sembuh.





ANALISIS CERITA


PERANG OBOR DARI DESA TEGAL SAMBI, JEPARA


A. Tema

Seperti yang kita tahu bahwa tema merupakan ide pokok atau gagasan utama yang mendasari sebuah cerita. Dari cerita rakyat “Perang Obor” di Tegal Sambi, Jepara ini lebih berdasarkan pada tema keagamaan atau religi. “Perang Obor” yang dilaksanakan setiap tahunnya adalah perwujudan rasa syukur para warganya terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang mereka percayai bahwa dengan dilaksanakannya tradisi perang obor tersebut, desa tetap tentram dan dilimpahkan rahmat dan rizki, serta terhindar dari segala macam bahaya atau sebagai tulak-balak.

B. Fungsi Cerita itu Bagi Masyarakatnya

Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, hal ini bisa digolongkan sebagai foklor yang merupakan sebagian kebudayaan kolektif yang memiliki suatu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut William R. Bascom, fungsi-fungsi foklor itu sendiri meliputi: a) sebagai system proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif; b) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; c) sebagai alat pendidikan anak; d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya (Danandjaja, 1997: 19)


1. Fungsi hiburan dari cerita rakyat “Perang Obor”

Selain perang obor dilaksanakan sebagai tradisi dan harus dilestarikan, perang obor juga memiliki fungsi untuk menghibur para warganya untuk saling gotong-royong dalam pelaksanaan “Perang Obor” berlangsung.
Perang obor ini dilaksanakan satu tahun sekali pada bulan Dzulllijah, pelaksanaannya berlangsung pada saat malam hari. Saat “Perang Obor” berlangsung, banyak sekali penonton yang ikut memeriahkan acara tersebut, selain dihadiri oleh seluruh warga desa, pejabat dari kabupaten juga warga sekitarnya juga ikut menyaksikan kemeriahan perang api itu.
Dari kutipan di atas dapat kita simpulkan, bahwa selain sebagai acara tradisi juga berfungsi sebagai penghibur yang dapat dinikmati oleh para pelaku dan penontonnya (warga yang hadir dalam acara berlangsung).

2. Fungsi edukatif (pendidikan) dari cerita rakyat “Perang Obor”

Cerita rakyat yang sudah menjadi tradisi di desa Tegal Sambi itu dipercayai oleh para warganya sebagai tanda rasa syukur atas rahmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada warga tersebut agar terhindar dari segala macam bahaya dan untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Hal ini sudah menjadi semacam sugesti dari batiniah para leluhurnya, bahkan kepala desa tersebut mengatakan bahwa perang obor berawal dari ikhtiar batiniah para leluhur. Tujuannya untuk menolak bala dan bersyukur atas nikmat dari Tuhan, setelah selama setahun penuh desa tentram dan tidak terjadi gangguan atau bencana.
Dari kutipan di atas dapat kita ketahui bahwa setiap tradisi yang ada pasti memiliki tujuan dan maksud tersendiri, seperti yang terdapat pada tradsi “Perang Obor” di desa Tegal Sambi, Jepara ini mengajarkan pada anak cucu mereka untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan. Dan di desa Tegal Sambi, Jepara rasa syukur tersebut dilaksanakan dengan tetap menguri-uri tradisi yang telah turun-temurun dilaksanakan setiap setahun sekali, hal ini diharapkan agar desa mereka tetap tentram, dan tidak terjadi gannguan atau bencana.

3. Relevansi cerita dengan keadaan sekarang

Cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun itu akan selalu terkait/berhubungan dengan keadaan sekarang. Sebab, cerita rakyat tersebut telah menjadi tradisi para warga setempat untuk tetap dilaksanakan dan dilestarikan sampai kapanpun, walaupun memang di zaman modern saat ini masyarakat kebanyakan lebih berfikir realistis dan maju, namun semua itu tidak seluruhnya. Buktinya di desa Tegal Sambi, Jepara tradisi yang bernama “Perang Obor” masih tetap dipercaya dan dilaksanakan.

0 komentar:

Poskan Komentar