Pages

Kamis, Desember 23, 2010

PERAN MAJALAH HORISON DAN DKJ UNTUK PERKEMBANGAN SASTRA DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

Sastra adalah sebuah dunia kreativitas yang tak berkesudahan. Ia harus terus dihidupi oleh nafas-nafas segar dari sang empunya yaitu para sastrawan dengan imaji dari kantong-kantong pikir dan rasanya. Kolaborasi dari elemen pikir dan rasa itu kemudian membentuk sebuah rangkaian kata yang diekspresikan dalam bentuk prosa, puisi ataupun sebuah syair.
Horison sebagai satu-satunya majalah sastra di Indonesia yang masih tetap hidup walaupun begitu tertatih-tatih selama hampir lebih 40 tahun ini merupakan salah satu media ekspresi rangkaian kata kantong rasa dan pikir itu. Dan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) sendiri adalah sebuah bentuk pengembangan daya pikir para pencetusnya untuk membangun dan memberikan wadah bagi para pengkarya itu sendiri dengan mengembangkan dan melestarikan kebudayaan dan kesenian di dalamnya.
Horison dan DKJ adalah sama-sama sebuah ruang yang memberikan tempat kesenian yang dapat dinikmati khalayak, keduanya memiliki peran besar dalam perkembangan sastra yang notabenenya memberikan gamabaran bagaimana kesenian itu diwadahi dalam bentuk kemasan yang dapat dinikmati. Dari itulah penulis menyusun makalah ini untuk mengulas sebagian besar peran dan perkembangannya majalah Horison dan DKJ dalam dunia sastra itu sendiri.




BAB II
PEMBAHASAN
PERAN MAJALAH HORISON DAN DKJ UNTUK PERKEMBANGAN SASTRA DI INDONESIA


A. Majalah Horison dan Perannya
Majalah Horison adalah majalah sastra di Indonesia yang masih bertahan sampai saat ini. Majalah ini didirikan oleh seorang sastrawan bernama Taufik Ismail. Selain itu juga ternyata banyak pusat-pusat sastra yang juga berupa lembar budaya di koran-koran yang biasanya juga diasuh oleh sastrawan. Di sinilah sebenarnya pengesahan seseorang sebagai sastrawan terjadi. Figur-figur yang menguasai institusi itulah yang secara tidak langsung berperan membangun opini publik terhadap kesastrawanan seseorang. Dengan demikian “demokratisasi” sastra itu terjadi.
Linus Suryadi yang pernah disahkan oleh Umar Kayam dan Bakdi Soemanto, telah ditanggapi dengan sikap kritis oleh Faruk dan JB Kristanto. Sutardji yang di awal tahun ’70-an mengejutkan publik sastra Indonesia pernah dicap sebagai bukan penyair oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Kantong-kantong sastra dengan figur kuat di dalamnya itulah yang akan ikut menentukan apakah seseorang itu merupakan sastrawan “sejati” atau hanya sastrawan kelas Dewan Kesenian Jakarta, kelas Teater Utan Kayu, kelas Horison kelas, Kompas, kelas Fakultas Sastra UGM dan sekadar menjadi “medioker”. Sastrawan sejati pasti mendapatkan pengakuan dari semua institusi dengan figur-figur di dalamnya tadi.
Dari tahun 1966 sampai dengan tahun ’80-an pengesahan seorang sastrawan sebenarnya sudah dilakukan secara kolektif melalui majalah Horison. Meskipun HB Jassin masih duduk sebagai anggota dewan redaksi, namun perannya sebagai penentu pemuatan karya sastra di Horison sudah tidak dilakukannya sendiri sebab di sana juga ada Muchtar Lubis, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail dan kemudian Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri dan Hamsad Rangkuti. Pada kurun waktu itu, peran tunggal Horison sebenarnya juga tidak sehat bagi perkembangan sastra Indonesia. Banyak kalangan yang tidak puas hingga cenderung mengirimkan tulisan-tulisan mereka ke lembar budaya koran atau menerbitkannya dalam bentuk buku. Memang pada waktu itu ada majalah Basis di Yogyakarta yang juga memuat puisi, tetapi kewibawaan Basis dianggap masih di bawah Horison. Terutama setelah jabatan redaktur puisinya ditinggalkan oleh Sapardi Djoko Damono.
Di tahun 1966, nama Jassin muncul di majalah Horison, dan beberapa sastrawan yang lainnya. Tidak lama kemudian, Jassin sendirian memimpin majalah Sastra yang terbit kembali. Kemudian di tahun 1968 majalah ini memuat sebuah cerpen “Langit Makin Mendung”, dan Jassin dijatuhi hukuman dengan masa percobaan karena cerpen itu.
Saut Situmorang, melalui makalahnya “Politik Kanonisasi Sastra” Saut Situmorang (untuk Kongres Cerpen ke-5 di Banjarmasin, 26 Oktober 2007) berpendapat bahwa dalam masa Horison, “hanya karya-karya apolitis yang eksperimental secara formal/bentuk yang menjadi kanon sastra Indonesia.” Saut menyebut contohnya: fiksi Danarto, Putu Wijaya dan Budi Darma atau puisi Sutardji Calzoum Bachri. Tetapi yang tidak disebut Saut, dalam masa Horison juga sangat menonjol cerpen Umar Kayam, misalnya “Bawuk”, “Musim Gugur Kembali di Connecticut” yang realis dan berinti pembunuhan dan pengejaran orang PKI setelah 1965.
Di tahun 1966, di Horison juga dimuat prosa non-fiksi berjudul “Perang dan Kemanusiaan”, kenang-kenangan Usamah mengenai pembantaian orang PKI. Karya ini diterjemahkan oleh jurnal Indonesia di Cornell University.
Dewasa ini, selain Horison juga ada jurnal Kalam yang kewibawaannya dianggap setara dengan Horison. Para sastrawan sendiri pun kini sadar bahwa kesastrawanan seseorang tidak perlu harus tergantung pada seorang redaktur media massa. Romo Mangun bisa menjadi sastrawan cukup dengan menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku. Sementara para sastrawan besar pun sekarang tidak lagi fanatik dengan Horison dan mau menyiarkan karyanya di koran-koran.
Dari ulasan yang tertera di atas dapat kita ketahui majalah Horison memberikan banyak ruang bagi para sastrawan untuk karya-karyanya. Tidak hanya sastrawan yang telah terkemuka saja, Horison memberikan tempat bagi para penulis siapa saja, baik penulis yang sudah terkemuka maupun penulis pemula. Horison memberikan gambaran kepada kita para penilik sastra di dalamnya sebagai suatu wadah yang sangat berguna dan membantu bagi para penulis untuk memperkenalkan karyanya, dan telah kita ketahui banyak nama-nama sastrawan terkemuka yang dijebolkan dari muka Horison yang dapat kita ketahui bagaimana tulisan-tulisannya.
Dengan demikian terciptalah kantong-kantong sastra yang mampu mengembangkan komunitas mereka sendiri secara sehat, tanpa campur tangan kritikus yang berwibawa. Mereka mendapatkan pengakuan sebagai sastrawan bukan karena karya mereka diulas oleh kritikus, tetapi lantaran rajin menulis, rajin mempublikasikan karyanya dan dibaca masyarakat. Di sini, ulasan atau komentar dari sang kritikus menjadi tak terlalu penting Mendambakan ulasan atau kritik, termasuk meminta pengantar dari sastrawan senior bagi buku yang mau terbit, adalah ciri sastrawan yang kurang pe-de.

B. DKJ dan Perannya
Sejak didirikan pada awal 1970-an, DKJ dengan TIM-nya, yang masih menjadi satu-satunya dewan kesenian di Indonesia, memang berhasil mencitrakan diri sebagai ‘pusat sastra’ nasional yang berwibawa. Para sastrawan seakan belum dianggap berkelas nasional jika belum ‘dibaptis’ (ditampilkan) oleh DKJ di TIM. Demikian juga majalah Horison, sebelum sastra koran ‘membagi’ perannya, dianggap sebagai satu-satunya ‘kiblat kualitatif’ sastra Indonesia.
Bersamaan dengan mengendorkan selektivitas pengurus DKJ, wibawa TIM sebagai pusat sastra pada awal 1990-an sebenarnya sudah mulai runtuh. Begitu juga halnya dengan Horison, yang posisinya sebagai kiblat sastra berangsur bergeser ketika rubrik sastra koran-koran Jakarta ikut mengambil bagian perannya. Tetapi, untuk mengubah pandangan para sastrawan daerah terhadap pusat tidaklah gampang, sehingga mereka tetap bermimpi dan berebut masuk ke sana. Peran pusat nilai sastra harus dibagi, sehingga peluang bagi para penulis daerah dan Jakarta sendiri terbuka semakin luas untuk diakui secara nasional.
Sedangkan Dewan Kesenian terbentuk oleh entitasnya sebagai upaya bagaimana kesenian dipikirkan dan kemudian dikelola, diurus dengan baik. Peran DKJ salah satunya adalah menumbuhkan etos kerja kreatif penulis dan komunitas sastra di Jawa di saat ini dan mendatang. Semua pasti kembali kebarak masing-masing: pada kesadaran totalitas berkarya dan memberi arti pada ruang sosialnya. Jika memang dewan kesenian tetap dibutuhkan, lembaga itu haruslah dirancang berlandaskan, menurut Suyatna Anirun, pada “adab kesadaran”. Yakni kesadaran atas keberadaan para seniman atau budayawan secara umum maupun khusus, kesadaran atas keanekaragaman bentuk dan perwatakan serta kompleksitas problem kesenian yang ada. Kesadaran akan potensi serta prospek pengembangannya di masa depan. Dewan kesenian harus dibangun atas dasar “adab bebas/mandiri”, dan selanjutnya atas “adab integritas” dan “keseimbangan”. Karena itu, diperlukan kewaspadaan dan pemikiran yang kritis akan “politik kesenian” dalam berbagai konteks, wacana, dan perubahan.
Fungsi lain misalnya adalah posisi DKJ sebagai mediator, penyambung lidah spirit seniman, menyorong kegiatan kesenian di daerah, komunitas-komunitas seni, menjembatani dengan gagasan pemikiran kesenian dan kebudayaan untuk dijadikan pertimbangan pemerintah, mengurangi perannya sebagai produsen karya, fokus memberikan motifasi, sebagai fasilitator bagi seniman untuk meningkatkan karya, melakukan pendataan komunitas seni.










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Peran majalah Horison dan DKJ sangat membantu untuk perkembangan sastra di Indonesia. Keduanya memberikan ruang dan tempat untuk kesenian tersendirinya. Seperti halnya Horison memberikan banyak ruang bagi sastrawan untuk berkarya. Dan peran DKJ sendiri sebagai mediator, penyambung lidah spirit seniman, menyorong kegiatan kesenian di daerah, komunitas-komunitas seni, menjembatani dengan gagasan pemikiran kesenian dan kebudayaan untuk dijadikan pertimbangan pemerintah, mengurangi perannya sebagai produsen karya, fokus memberikan motifasi, sebagai fasilitator bagi seniman untuk meningkatkan karya, melakukan pendataan komunitas seni.

0 komentar:

Poskan Komentar