Pages

Kamis, November 01, 2012

TRADISI PERANG OBOR DARI JEPARA


PENDAHULUAN


A.    Pengertian

Di era globalisasi ini, tak sedikit kita masih bisa melihat kebudayaan atau adat-istiadat yang masih dijalankan oleh masyarakat yang meyakini keberadaan suatu kebudayaan. Kebudayaan sebagai sebuah adat yang penting, selalu akan ada resiko yang harus ditanggung apabila ditinggalkan atau tidak dilaksanakan. Hal ini tak terlepas dari mitos yang berkembang, yang akhirnya mendasari keyakinan masyarakat akan pelaksanaan kebudayaan tersebut.
Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat (Permadi, 2011: 1). Pengertian lain dari tradisi ialah adat istiadat atau kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun dan masih dijalankan di masyarakat. Tanpa adanya tradisi tidaklah mungkin sebuah kebudayaan akan langgeng. Sebab tradisi dapat menjadikan sistem kebudayaan menjadi lebih kokoh. Ada kemungkinan apabila suatu tradisi dihilangkan, maka suatu kebudayaan akan berakhir saat itu juga. Maka dari itu kebudayaan erat kaitannya dengan tradisi-tradisi yang dijalankan oleh masyarakatnya untuk melestarikan kebudayaan tersebut.
Di antara tradisi-tradisi yang ada di Indonesia, ada salah satu tradisi yang masih dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat yang meyakininya, yaitu Tradisi Perang Obor yang ada di desa Tegalsambi kecamatan Tahunan kabupaten Jepara. Tradisi ini merupakan kebudayaan yang sudah lama diuri-uri oleh masyarakat Tegalsambi sebagai suatu bentuk ritual yang sakral, artinya masyarakat desa Tegalsambi masih merasa ritual tersebut sangat penting dan pantang untuk dirtinggalkan. Mereka meyakini bahwa apabila dalam satu tahun tidak melaksanakan Tradisi Perang Obor, maka dalam tahun tersebut akan ada bencana yang menimpa desa Tegalsambi.
Tradisi Perang Obor dilaksanakan setiap satu tahun sekali setelah panen raya (panen tanaman padi) di desa Tegalsambi. Tanggal pelaksanaannya tidak selalu pasti, tergantung dari rembug desa, yang terdiri dari kepala desa dan perangkat desa serta beberapa perwakilan dari masyarakat secara bersama-sam melakukan musyawarah untuk menentukan kapan tradisi Perang Obor akan dilaksanakan. Tapi walaupun tanggal tak pernah pasti, hari pelaksanaannya harus pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon, setelah panen raya padi. Hari tersebut diyakini para masyarakat desa Tegalsambi sebagai hari hilangnya wabah penyakit yang menimpa warga desa Tegalsambi dan ternak-ternaknya.




B.     Sejarah Perang Obor

Perang obor adalah tradisi turun-temurun yang telah dilestarikan masyarakat desa Tegalsambi sejak zaman dahulu. Tradisi Perang Obor dilaksanakan dalam rangka sedekah bumi dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah diberikan selama satu tahun, baik berupa hasil alam maupun keselametan pada bumi Tegalsambi.
Perang obor itu masih diuri-uri dan dijaga kelestariannya. Bagi pemerintah daerah Jepara acara tradisi itu dikemas menjadi ajang wisata yang mampu menyedot pengunjung yang cukup banyak. Namun bagi warga desa Tegal Sambi ritual “Perang obor” sebagai tolak balak dan juga ajang syukuran warga desa sehabis panen padi, agar tahun-tahun mendatang semua warga masih mendapatkan rejeki dari yang Maha Kuasa.
"Perang obor berawal dari ikhtiar batiniah para leluhur. Tujuannya, untuk menolak bala dan bersyukur atas nikmat Tuhan, setelah selama setahun penuh desa tentram, tak terjadi gangguan atau bencana," kata Kepala Desa Tegal Sambi, Sumarno.
Upacara Perang Obor ini jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan Besar (Dzullijah). Dilaksanakan pada saat puncak panen di desa Tegal Sambi Kecamatan Tahunan yang letaknya kurang lebih 3 km arah selatan kota Jepara. Upacara diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegal Sambi terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut.
Berkenaan dengan kejadian pada masa lampau tersebut, dipercaya sebagai asal mula terjadinya perang obor.  Dari penelitian penulis, penulis menemukan dua versi cerita sebagai berikut:

1)  Versi pertama (abad XVI M)

Konon ceritanya pada abad XVI Masehi, di desa Tegalsambi ada seorang petani yang sangat kaya raya dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan”. Dia mempunyai banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya seorang diri jelas tidak mungkin, sehingga dia mencari orang untuk jadi pengembala binatang-binatang piaraannya, dan kemudian dia mendapatkan pengembala untuk mengembala binatang-biantangnya tersebut. Penggembala tersebut sering dipanggil Ki Gemblong. Ki Gomblong ini sangat tekun dalam memelihara binatang-binatang tersebut, setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikanya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk-gemuk dan sehat. Tentu saja kyai Babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut.
Pada suatu hari Ki Gemblong menggembala di tepi sungai Kembangan sambil asyik menyaksikan banyak ikan dan udang yang ada di sungai tersebut, dan tanpa menyianyiakan waktu ia langsung menangkap ikan dan udang tersebut yang hasil tangkapannya lalu dibakar dan dimakan di Kandang. Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga dia lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai penggembala. Dan akhirnya kerbau dan sapi yang digembala menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang-kurangnya dicarikan jampi-jampi demi kesembuhan binatang-binatang piaraannya, tetapi tetap tidak sembuh juga. Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang-binatang tersebut, namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.
Melihat hal semacam itu Kyai Babadan marah besar, saat menemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “Perang Obor“ yang apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang. Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang.


2) Versi kedua (sekitar abad XVI)
Sekitar abad XVI, pada zaman dahulu di Desa Tegalsambi terjadi wabah penyakit yang menimpa hewan-hewan ternak penduduk, sehingga menimbulkan keresahan masyarakat. Menurut kepercayaan penduduk bahwa terjadinya wabah penyakit tersebut akibat kemarahan dari roh halus.
Kyai Gemblong adalah salah satu tokoh masyarakat pada masa itu yang mempunyai penggembala bernama Joko Wongso. Joko Wongso sehari-hari menggembalakan ternak (kerbau) kyai Gemblong dengan rasa kasih sayang, sehingga dia bekerja setiap harinya tanpa rasa bosan.
Kyai Gemblong tinggal di sekitar prapatan desa Tegalsambi. Pada suatu hari kyai Gemblong menyuruh Joko Wongso untuk meminta api pada kayai Dasuki untuk membakar ikan pemberian dari kyai Babadan. Joko Wongso disuruh oleh kyai Dasuki untuk mengambil sendiri api yang ada di kandang. Api di kandang biasanya digunakan untuk mengusir nyamuk yang mengganggu, selain itu juga digunakan untuk penerangan.
Ketika Joko Wongso mau mengambil api di kandang, Joko Wongso melihat api di kandang tersebut akan mati. Joko wongso berusaha untuk menyalakan kembali api tersebut, namun tindakan Joko Wongso malah menjadikan ternak uang ada di kandang terkejut dan secara serentak keluar dari kandang tanpa bisa dikendalikan. Kyai Dasuki sebagai pemilik ternak segera mencari ternak yang lari dari kandang tersebut dan Joko Wongso diajak untuk membantu. Karena jumlah binatang ternak yang lari sangat banyak, kyai  Dasuki menyuruh Joko Wongso untuk lebih cepat mencari biar ternaknya tidak lari semakin jauh. Tetapi Joko Wongso menolak perintah tersebut dan dengan marah-marah memukulkan obor yang dipegangnya pada kyai Dasuki. Sebagai orang yang sabar, kyai Dasuki tidak membalasnya dan mencari sendiri kerbau yang lari hingga akhirnya ditemukan. Beberapa saat setelah kejadian tersebut, penyakit yang menimpa hewan-hewan ternak yang ada di desa Tegalsambi sembuh dengan sendirinya. Hilangnya wabah penyakit yang menimpa ternak-ternak warga desa Tegalsambi karena tindakan Joko Wongso yang memukulkan obor pada kyai Dasuki dipercaya masyarakat dapat menghilangkan penyakit warga desa Tegalsambi dan juga ternak-ternaknya.

Dari kedua versi cerita di atas, versi cerita kedua yang lebih dipercaya ketimbang versi cerita pertama. Hal ini dikarenakan berdasarkan keterangan mengenai kyai Babadan adalah seorang nelayan yang konon rumahnya berada di sebelah barat perempatan desa Tegalsambi yang sekarang pundennya (makamnya) dapat ditemukan sekitar 100 meter ke arah Timur dari laut. Dan kyai Gemblong sendiri bertempat tinggal di sekitar perempatan desa Tegal sambi adalah seorang petani atau peternak yang sangat kaya, bukan seorang penggembala seperti yang diceritakan dalam versi yang pertama. Punden (makam) dari kyai Gemblong ini dapat ditemukan di sekitar perempatan desa Tegalsambi.
Perang obor ini terbuat dari gulungan atau bendelan dua atau pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering (jawa : Klaras ). Ukuran obor tersebut tidak seperti ukuran obor lazimnya, tetapi dengan tinggi 3 m dan diameter 10 cm. Jumlah obor yang digunakan biasanya 200-300 obor bahkan lebih. Dan uniknya perang obor ini harus dimainkan oleh laki-laki dewasa dan asli dari penduduk setempat. Kemudian obor dinyalakan bersama-sama oleh warga untuk dimainkan/digunakan sebagai alat untuk saling menyerang, sehingga sering terjadi benturan-benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran–pijaran api yang besar.

C.    Munculnya Perang Obor

Tradisi Perang Obor ini diperkirakan sudah ada sejak munculnya desa Tegalsambi. Masyarakat desa Tegalsambi tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali munculnya tradisi Perang Obor, mereka hanya mendengar cerita-cerita yang diwariskan antar generasi.
Masyarakat desa Tegalsambi tidak dapat menceritakan secara pasti sejak kapan Tradisi Perang Obor mulai dilaksanakan. Mereka hanya mengatakan bahwa upacara ini sudah dilaksanakan sejak lama, masyarakat desa Tegalsambi tinggal meneruskan adat yang telah berjalan secara turun-temurun tersebut.


ISI DAN PEMBAHASAN


A.    Prosesi Pelaksanaan Tradisi Perang Obor
Waktu pelaksanaan Perang Obor masih menggunakan perhitungan Jawa. Upacara Perang Obor dilaksanakan satu tahun sekali setelah panen raya padi, yaitu pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon, namun tergantung juga pada musyawarah desa.
Menurut bapak Sumarno, alasan Perang Obor dilaksanakan pada hari tersebut dipercaya masyarakat sebagai hilangnya wabah penyakit pada desa Tegalsambi pada masa nenek moyang mereka.
Pada saat ini upacara obor-oboran dipergunakan untuk sarana sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi kesuburan pada tanah mereka dan keselamatan pada masyarakat. Sebagai suatu kegiatan, upacara obor-oboran tidak dapat berdiri sendiri tanpa selamatan sedekah bumi, begitu juga sebaliknya. Jadi, kedua kegiatan ini saling melengkapi satu sama lain.
35 hari (selapan) sebelum pelaksanaan Perang Obor didahului dengan adanya selamatan dan doa-doa bersama atau istilahnya sama dengan ‘Bari’an’, tempat pelaksanaannya di makam para pendiri desa Tegalsambi.


Pelaksanaan Bari’an di 7 Makam
1.      Bari’an Tegal (makam kyai Dasuki)
Dilaksanakan sesuai dengan penanggalan jawa yang jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon pada pukul 12.30 WIB (setelah sholat dzuhur) di punden mbah Tegal. Punden Tegal letaknya kurang lebih 20 meter dari pesantren Nurul Huda.
Makan-makan di makam mbah Tegal

2.      Punden Prapatan (makam kyai Tegalsari)
Punden ini terletak di sebelah barat perempatan desa Tegalsambi. Dilaksanakan dengan menggunakan penanggalan jawa yang jatuh pada hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi. Dinamakan Bari’an Prapatan karena lokasi pelaksanaan ritual bari’an berada pada salah satu sudut perempatan desa Tegalsambi.
Masyarakat melempari orang yang lewat di sekitar perempatan dengan nasi dan lauk hasil selamatan

3.      Punden Gambiran (makam kyai Babadan)
Bari’an ini dilaksanakan pada penanggalan jawa yang jatuh pada hari Kamis Pahing malam Jumat Pon di makam kyai Babadan pada pukul 12.30 WIB.
Bari’an di makam kyai Babadan


4.      Punden Doromanis (makam kyai Syugimanis)
Dilaksankan di hari yang bersamaan setelah bari’an di punden Gambiran. Letak makamnya di tengah-tengah areal persawahan desa Tegalsambi.

5.      Punden Bendo (makam kyai Tunggulwulung)
Dilaksanakan sesudah bari’an Doromanis di hari yang sama, letak makamnya di tengah-tengah pemukiman warga atau lebih tepatnya di pekarangan salah satu warga desa Tegalsambi.
Bari’an di makam kyai Tunggul Wulung


6.      Punden Sorogaten (makam kyai Sorogaten)
Dilaksanakan pada hari Senin Wage malam Selasa Kliwon di masjid Baituz Dzakirin pada pukul 12.30 WIB sesudah sholat dzuhur.

7.      Punden Jrakah (makam kyai Sudimoro)
Dilaksankan bersamaan dengan dilaksankannya bari’an Sorogaten.

Ritual-ritual bari’an tersebut dimaksudkan untuk meminta izin kepada para leluhur desa Tegalsambi agar pada pelaksanaan acara utama yaitu Perang Obor tidak ada hambatan yang dapat menganggu jalannya acara. Pada pelaksanaan bari’an, setiap kepala keluarga diharuskan membawa bekal makanan sendiri, tapi diabgi rata dengan masyarakat lain, jadi sama halnya orang lain memakan milik kita dan kita memakan milik mereka.
       

B.      Pelaksanaan Perang Obor

      Pada hari pelaksanaan Perang Obor berdasarkan rembug desa, paginya diadakan penyembelihan hewan kerbau yang masih perjaka di lapangan Desa Tegalsambi. Alasan pemilihan kerbau yang masih perjaka adalah karena kerbau merupakan hewan peliharaan Kyai Dasuki atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Tegal, darah pertama yang keluar dari kerbau dijadikan sebagai pelengkap sesajen, sedangkan dagingnya akan dimasak bersama masakan lainnya. Setelah penyembelihan kerbau, diselenggarakan kesenian tradisional wayang kulit. Acara pertunjukan wayang kulit dilaksanakan di Balai Desa Tegalsambi.

Pementasan Wayang Kulit di Balai Desa

      Di tengah-tengah acara diselenggerakannya pementasan wayang kulit, di tempat lain dilaksanakan Bari’an yang terakhir kali. Bari’an dilaksanakan di masjid Baituz Dzakirin. Tujuan dari Bari’an kali ini adalah untuk meminta izin kepada seluruh arwah nenek moyang Desa Tegalsambi karena pada malam harinya akan dilaksanakan Perang Obor. Perlengkapan Bari’an meliputi bejana dari tanah, kemenyan dibakar, nasi ambeg (nasi beserta lauk-pauknya).
      Sore harinya mempersiapkan obor yang akan digunakan saat pelaksanaan Perang Obor pada malam harinya. Obor ditata di sepanjang jalan menuju ke arah perempatan Desa Tegalsambi. Obor ditumpuk dan diletakkan setiap 10 meter, namun hanya 3 penjuru karena salah satu penjuru ditutup dengan panggung dari pihak sponsor.
      Para pemain Perang Obor dipilih oleh kepala Desa Tegalsambi dengan cara membuka pendaftaran sehari sebelum acara dilaksanakan. Tidak ada kriteria apa pun untuk memilih pelaku Perang Obor, hanya diperlukan kesiapan mental serta keberanian dan ketangkasan dari pelaku Perang Obor.
      Setelah mendapatkan pengarahan dari panitia dan semua perlengkapan Perang Obor telah siap maka upacara Perang Obor siap dimulai. Beberapa pemain Perang Obor berjalan menuju ke tengah-tengah perempatan desa Tegalsambi sambil membawa bejana dari tanah yang berisi kemenyan, darah kerbau yang disembelih sebelumnya, serta obor kecil yang terbuat dari bambu. Sesampainya di perempatan desa Tegalsambi, kemenyan dibakar dengan menggunakan api yang berasal dari obor kecil yang terbuat dari bambu tersebut.

http://1.bp.blogspot.com/-1r8sAyn5Kxs/TcknS_pirmI/AAAAAAAAA2I/FV3padtXIho/s640/Perang+Obor+Jepara+1.jpg
Gambar Perang Obor saat dimainkan, 9 Mei 2011
http://1.bp.blogspot.com/-wVe7Wzra3Wo/TcknXHscveI/AAAAAAAAA2M/KyjDNUmz6TM/s640/Perang+obor2.jpg
Perang Obor saat dimainkan, 9 Mei 2011

Pelaksanaan Perang Obor


      Obor pertama dinyalakan menggunakan api yang berasal dari kemenyan tadi, para pelaku Perang Obor yang paling dekat dengan tumpukan obor di tengah perempatan, kemudian saling meminta api dari obor yang pertama dan kemudian diangkat ke atas dalam keadaan api berkobaran.
      Acara perang Obor dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan berakhir sampai semua obor yang disediakan panitia habis digunakan oleh para pemain.
Setelah acara selesai, para pemain berkumpul di rumah kepala desa untuk beristirahat dan mengobati para pemain yang luka. Dan para penonton yang  terkena percikan api pun juga ikut dating ke rumah kepala desa untuk mengobati luka. Obatnya terbuat dari minyak kelapa murni, jerami yang sudah dibakar sampai menjadi arang, bunga layon (bunga untuk melayat di kuburan yang dikumpulan setiap hari jumat selama satu tahun), darah kerbau yang telah disembelih sebelumnya, kemudian diberi mantra oleh ibu kepala desa. Obat dari minyak kelapa yang sudah dimantrai dipercaya masyarakat desa Tegalsambi sangat mujarab karena mampu mengobati luka akibat terkena api obor. Luka akan hilang tanpa meninggalkan bekas serius di kulit bebewrap hari setelah diberi obat tersebut.

Para pemain mengobati luka bakar
      Dengan waktu bersamaan para pemain Perang Obor mengobati luka bakar, istri kepala desa membagikan uang kepada mereka sebagai uang lelah karena telah ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan Perang Obor. Meskipun jumlah nominalnya tidak seberapa, yaitu sejumlah duapuluh lima ribu rupiah, namun ada kebanggaan tersendiri karena sudah ikut menjadi peserta Perang Obor. Karena perang obor merupakan kebanggaan daerah asal yang dimiliki dan dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.


C.     Tujuan Perang Obor
Perang obor itu masih diuri-uri dan dijaga kelestariannya. Bagi pemerintah daerah Jepara acara tradisi itu dikemas menjadi ajang wisata yang mampu menyedot pengunjung yang cukup banyak. Namun bagi warga desa Tegal Sambi ritual “Perang obor” bertujuan sebagai tolak balak dan juga ajang syukuran warga desa sehabis panen padi, agar tahun-tahun mendatang semua warga masih mendapatkan rejeki dari yang Maha Kuasa.
Budaya itu sudah turun temurun  dan dilestarikan oleh para warga setempat, karena selain merupakan tradisi budaya daerah, juga sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha esa atas limpahan anugrah panen kepada masyarakat setempat. Tradisi yang sangat menarik untuk dinikmati oleh wisatawan, sehingga hal ini berpotensi untuk dikembangkan dan dikemas menjadi wisata budaya yang sangat menarik.
D.     Hambatan Dalam Mempertahankan Tradisi Perang Obor

Hambatan-hambatan yang dirasakan dari tahun ke tahunny adalah dari aspek peralatan dan pendanaan:

1) Kelangkaan bahan baku
Sulitnya mencari bahan baku yang digunakan untuk membuat obor. Bahannya yaitu dengan menggunakan daun pisang yang sudah kering dan daun kelapa yang sudah kering (klaras). Bapak Sumarno mengatakan bahwa, daun pisang di Tegalsambi banyak, tapi kalau daun kelapa keringnya yang jarang, sehingga untuk mengantisipasi keadaan tersebut , masyarakat desa Tegalsambi biasanya membeli daun kelapa kering di luar desa.

2) Aspek pendanaan
Kelangkaan bahan baku yang digunakan tersebut saja sudah mempengaruhi besar kecilnya dana yang digunakan. Apalgi ada pementasn wayang kulit dan penyembelihan kerbau juga.
Pendanaan lain dari iuran masyarakat desa Tegalsambi. Degan dikomando oleh kepala desa, setiap kepala keluarga diharuskan menyetorkan sumbangan dalam bentuk uang maksimal dua minggu sebelum pelaksanaan Perang Obor. Besar kecilnya iuran tersebut tergantung dari pendapatan individu tersebut.


PENUTUP


Kesimpulan

Begitulah potret Tradisi Perang Obor di Jepara yang masih diuri-uri dan dijaga kelestariannya oleh para masyarakat Tegalsambi. Perang Obor selain sebagai budaya yang mereka miliki, juga sebagai adat istiadat yang dipercayai untuk tolak-balak dan meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan limpahan karuniaNya di bumi Tegalsambi.
Acara dilaksanakan setiap satu tahun sekali, dengan berbagai prosesi yang harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum hari pelaksanaannya Perang Obor. Ada pun prosesinya seperti melaksanakan Bari’an di 7 makam atau punden para leluhur pendiri desa Tegalsambi dan pelaksanaan Wayang Kulit, serta penyembelihan hewan kerbau. Semuanya itu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tegalsambi yang meyakini ritual adat Tradisi Perang Obor tersebut.


catatan!
1. untuk mengetahui foto-foto setiap proses perang obor berlangsung, bisa hubungi penulis
2. buku ini penulis tulis berdasarkan tugas dan bimbingan dosen matakuliah pengkajian kesenian tradisional
3. penulis hanya mengepost dari isi buku, untuk melihat selengkapnya bisa hubungi penulis.

Penulis : Nanik W A2A009010





2 komentar:

arif setiyawan mengatakan...

menarik mba,,,, mba bisa minta daftar pustaka nya ga ? terima kasih

arif setiyawan mengatakan...

mba boleh minta daftar pustakanya ga... mksh

Poskan Komentar